Transportasi dan Transformasi Budaya

Boleh jadi, masalah kebangsaan kita -termasuk transportasi- adalah masalah "human being". Ego untuk mendapat hal-hal "material" untuk diri kita sendiri.

PLN, DBL, dan Pasar Atom

Dahlan sukses di PLN karena kendali komunikasi, DBL besar (salah satunya) karena JP, Atom menang bersaing karena (salah satunya) media internal.

Rindu, Keju, dan Bokong

kenapa bagian bawah punggung kita dimakan bokong? Kenapa tidak keju? Kenapa keju tidak dinamakan bokong saja? Kenapa?.

Realita Cinta, (Pipis), dan Rock n Roll

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara cinta dan kebelet pipis. Keduanya mendesak, top number 1, dan menimbulkan efek suara yang sama: Ahhh..

Cerita Berambut

Dulu, saya benci sekali potong rambut. Selalu meras lebih pede dan "dapet gaya" dengan rambut gondrong. Demi masa, begitu cepat waktu berlalu.

Saturday, March 08, 2014

Antara Aku, Kau, Ibumu, dan Mbah-Mbahmu (Surat untuk Azka -1)




Kepada Muhammad Raihan Azka, anakku
.
Hari ini aku menulis surat padamu. Teknologi internet akan menyimpan surat ini hingga suatu saat kau bisa membacanya, dan tahu betapa ibu dan bapakmu sangat mencintaimu. Ini adalah surat pertama untukmu. Semoga Allah memanjangkan umurku agar bisa membuat banyak tulisan, sebagai warisan.

Hal pertama yang ingin kusampaikan padamu, aku ingin kau sedini mungkin belajar mengenai salah satu hal terpenting dalam hidupmu: Mengenal identitas dan jatidirimu. Mengapa penting? Karena semua hal buruk yang dilakukan manusia adalah karena ia tak mengenal jatidirinya. Kelak kau bisa cari tahu apa maksudku.

Awal yang paling mudah untuk mengenali jatidirimu adalah dengan mengenal aku dan ibumu, orang tuamu. Bagaimana kami bertemu? Suatu saat jika umur kami panjang, akan kupertemukan kau dengan seseorang bernama Sony Yulianto, sahabatku. Ia tahu banyak tentang aku dan ibumu. Atau kau bisa langsung bertanya pada ibumu, hanya saja jangan benar-benar percaya padanya, karena ia cenderung memutarbalikkan fakta mengenai awal hubungan kami berdua: Siapa yang mengejar dan siapa yang dikejar. Hehe, aku bercanda. Aku dan ibumu sering sekali bercanda (dan bertengkar) seperti seorang sahabat.

Aku dan ibumu adalah pasangan yang saling melengkapi. Aku penuh pertimbangan, ibumu cenderung spontan. Ibumu pintar teori-teori agama, aku lebih sering berpikir dan mencari makna. Hobiku baca, ibumu suka menjelajah gunung dan rimba. Aku cenderung diam, ibumu suka sekali bercerita. Aku juara puisi, ibumu juara lomba lari. Makanku lama, ibumu selalu tampak berselera apapun menunya. Dalam hidup kami, Ibumu menarikku ketika aku terlalu lambat. Aku menghentikannya ketika ia mulai terlalu cepat.

Aku kurus, cenderung tinggi. Tulangku cenderung kecil. Gigiku tak rapi, gigi kelinci. Kulitku sawo matang, hidungku panjang. Sementara ibumu tak tinggi, tapi tulang-tulangnya cenderung kokoh. Kulitnya putih bersih, giginya rapi. Aku merasa makin hari ia makin cantik, terutama jika kerudung panjang menutupi tubuhnya. Satu-satunya yang sama dari aku dan ibumu adalah rambut kami yang ikal, tapi aku lebih dominan. Aku tak tahu kau lebih mirip siapa, tapi agaknya tulang-tulangmu kokoh, gen dari ibumu. Darahmu Jawa-Madura, karena bapakku Jawa, ibuku asli Madura. Orang tua ibumu dua-duanya Jawa.

Ibumu. Kau pasti sepakat bahwa ia cantik.



Hidupku lebih keras dari ibumu. Mbahmu, orang tuaku, berpisah saat aku berumur sekitar 12 tahun. Cukup itu saja yang perlu kau tahu. Sejujurnya aku lebih lega melihat mereka berpisah setelah apa yang kami lalui selama bertahun-tahun. Tak perlu kau tanya mengapa dan siapa yang salah. Semua sudah kukubur tanpa pusara. Aku tetap mencintai mereka berdua, seperti aku mencintai kau dan ibumu. Hanya saja, aku memang lebih menjaga perasaan Mbah bhinek-mu (Bhinek adalah bahasa Madura, artinya wanita). Kelak, kau juga harus begitu memperlakukan ibumu.

Perpisahan itu mengajariku tentang hidup, tentang perjuangan, tentang cinta. Aku, Budhemu Ida, dan Mbah Bhinek-mu sempat berpindah-pindah rumah, termasuk rumah kontrakkan di sebuah gang sempit dengan ukuran sekitar 5 X 8 meteran dimana cuma ada satu TV cicilan 14 inchi dan dua kasur saat kami pertama menempatinya. Keadaan yang cukup berbeda setelah apa yang selama ini kami punya.

Aku tak menyalahkan keadaan, apalagi menjadi pengecut dengan lari ke hal-hal bodoh seperti narkoba, alkohol, dll kemudian bersembunyi pada dalih keluarga broken home. Aku kuat, tak tahu kenapa, padahal cobaan kami, khususnya mbah Bhinek-mu sangat berat. Itu salah satu sebabnya mengapa aku benci sekali anak-anak muda bermental lemah. Menyalah-nyalahkan dan memaksakan keadaan orang tua serta merengek-rengek minta dibelikan sepatu bermerek, laptop, handphone, komputer tablet terbaru, sepeda motor, mobil, atau memakai narkoba, mabuk, dll hanya agar terlihat keren dan diterima di lingkungan pergaulannya.

Singkat cerita, aku menikahi ibumu ketika aku berumur 30 tahun. Ibumu delapan tahun lebih muda dariku. Ibumu pekerja kantoran, aku mantan wartawan yang dengan dukungan ibumu, memutuskan membuat sebuah perusahaan kecil, masih berhubungan dengan bidang media. Aku masih ingat betul kami menghitung budgeting sangat sederhana dan tradisional untuk memulai usaha itu di trotoar depan kantor ibumu, di bawah temaram sinar kuning keemasan lampu jalanan plus background musik yang berasal dari deru mesin kendaraan. Itu sejarah. Semoga saat kau membaca ini, usaha ini sudah menjadi lebih besar, menempati tempat usaha yang jauh lebih layak dan membawa manfaat bagi lebih banyak orang.

Lewat pekerjaanku inilah aku bisa memberi nafkah untuk kau dan ibumu. Sedikit-sedikit berusaha menyenangkan mbah-mbahmu, atau paling tidak, tidak membuat mereka mengkhawatirkan keluarga kecil kita. Biaya kelahiranmu juga dari pekerjaan ini. Aku bersyukur bisa memberi yang layak -meski mungkin bukan yang terbaik- bagi kalian berdua. Salah satu kebanggaan terbesarku sebagai bapak dan suami adalah ketika aku bisa memberikan perawatan yang layak -meski bukan yang terbaik- untuk ibumu ketika mengandung dan melahirkanmu.

Aku bekerja bersama beberapa anak-anak muda, rata-rata seumuran ibumu. Mereka anak-anak muda yang hebat. Selain kau, ibumu, dan keluarga besar kita, aku berjanji untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Aku berhutang banyak pada mereka, meski mereka mungkin tak merasa begitu. Ada banyak cetakan hasil pekerjaan kami yang bisa kau cari di rumah, sekadar agar kau bisa membayangkan apa yang telah kami kerjakan.


Aku dan anak-anak muda hebat di kantor mungil kami
Ibumu juga wanita yang hebat. Ia bekerja, membantuku. Karena itu ia harus memerah susu untukmu setiap saat, setiap sempat, meski kadang dalam keadaan setengah terpejam dan terjaga karena lelah. Itu sebabnya sampai saat ini aku tak perlu membeli susu formula untukmu. Kau mendapat yang terbaik dari ibumu. Berterima kasihlah padanya. Temukan sebanyak-banyaknya cara untuk itu, karena kau tak akan pernah bisa membalasnya. Tidak juga aku.

Bicara soal ibumu, aku ingin sedikit cerita tentang mbahmu, orang tua ibumu. Mereka yang menjaga dan merawatmu sedari lahir. Dari rumah sakit, kau pulang ke rumah mereka, rumah sederhana yang orang-orang di dalamnya hidup bahagia. Aku belajar tentang bahagia dari mereka. Mereka berkumpul hampir setiap malam di ruang tamu, tertawa bersama, dan bercerita mengenai banyak hal. Ibumu seringkali mendominasi sesi itu. Ia selalu punya banyak cerita.

Kadang kami ngobrol di teras rumah atau di akses antara ruang tamu dan bagian dalam rumah. Akses itu jalan selebar kira-kira setengah meter, agak susah jika ada dua orang lewat berbarengan di jalan itu, karena ada beberapa lemari juga berjejer di sana. Kami sering “ngerunthel” disana. Ada adik ibumu Lia, sepupu ibumu yang tinggal di rumah itu, Bayu. Ada juga beberapa saudara yang rumahnya berdekatan dengan rumah mbahmu. Mereka hampir setiap malam berkumpul. Orang-orang di rumah ini suka sekali bercerita.

Mbah Kakungmu bekerja di rumah. Di teras rumah yang ukurannya hanya sekitar 2 x 5 meteran, ada satu mesin jahit di sana. Ia punya usaha reparasi tas. Aku pernah sedikit berwacana agar ia mau membesarkan usahanya. Aku merasa ada peluang bisnis yang belum tergarap maksimal. Menurutku ia bisa mengambil beberapa pegawai agar kapasitas produksinya bisa makin besar, sehingga omzet dan keuntungannya juga jauh meningkat.

Tapi otak bisnisku yang “kedunyan” ini agaknya tak “gathuk” dengan jiwa “nriman” dan konsep tawakkal mbah kakungmu itu. Ia lebih memilih bekerja “seadanya”, salah satunya agar setiap waktu sholat tiba, ia bisa bergegas ke mushola, tidak disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Ia biasa jadi imam sholat di sana. Aku belajar bab baru di rumah ini: Barokah.

Jangan salah dengan kalimatku “bekerja seadanya”. Mbah kakungmu itu mampu menyekolahkan ibu dan tantemu Lia sampai sarjana. Tantemu Lia juga mendapat fasilitas yang tak kalah dari anak-anak orang kaya, meski terkadang aku merasa fasilitas-fasilitas dan kemudahan mbahmu mengabulkan permintaannya membuat tantemu itu kurang “tangguh”.

Sama seperti mbah bhinek-mu, mbah kakungmu adalah semacam “tokoh kampung” yang sering diminta untuk memimpin pengajian di kampung mereka. Seperti pembacaan yasin tahlil, tasyakuran, dll. Mbah kakungmu juga mengajar anak-anak kecil mengaji seusai maghrib di mushola dekat rumah. Sementara mbah bhinekmu mengajar ibu-ibu di rumah . Sebelum menikah dan bekerja, ibumu juga membantu mbah kakungmu, mengajar anak-anak kampung memahami huruf hija’iyah.

Selain aku dan ibumu serta mbah bhinekmu, Mbah kakung dan mbah puterimu lah orang yang paling berjasa dalam hidupmu. Mereka lebih sering menyeka dan membersihkan pipis dan e’ek-mu dibanding aku dan ibumu. Mereka menjagamu setiap hari karena aku dan ibumu harus bekerja. Kau tinggal di rumah mereka karena mbah bhinekmu sudah cukup sepuh. Sementara kami, orang tuamu, tak cukup becus mengurus segala keperluanmu.  


Kau, Mbah Kakung dan Mbah Puterimu. 

Sampai tulisan ini aku buat, kau masih tinggal disana. Aku dan ibumu masih berusaha keras menabung mengumpulkan uang muka untuk membeli sebuah rumah. Tak perlu besar, mungil saja, asal penuh cinta. Kami ingin rumah itu nanti ada di dekat rumah bhinekmu. Ia sudah cukup sepuh, kami ingin dekat dan bisa selalu menjaganya. Sementara mbah kakungmu dan mbah puterimu masih relatif muda. Umur mbah puterimu masih sekitar 45 tahun-an. Dari segi umur, masih termasuk kategori anak mbah bhinekmu. Sebagai bayanganmu, saat kutulis surat ini, umurku 32 tahun. Hanya selisih 13 tahun dari mbah puterimu, mertuaku.

Berbeda dengan suasana rumah mbah kakung dan mbah puteri dimana kau dirawat saat ini, rumahku cenderung lebih “serius”. Mbah bhinekmu, aku, dan budhemu Ida termasuk orang-orang pendiam. Kami tak banyak ngobrol. Ngobrol, tapi tak banyak. Aku lebih sering membaca dan menonton TV, budhemu Ida rajin menulis diary saat remaja, sementara mbah bhinekmu lebih sering sibuk di meja kecilnya. “Nulis-nulis”, begitu istilah yang sering dipakainya.

Selain memasak, Mbah bhinekmu memang hobi sekali menulis. Apapun ditulisnya, termasuk apa-apa saja yang akan dan telah dilakukannya. Aku juga sering sekali mendapat surat-surat kecil di meja makan, sekadar memberitahu bahwa ia pergi ke gang sebelah untuk membeli sesuatu. “Ini ada soto, makan ya, enak. Ibu ke Bu Parwo sebentar,” begitu kira-kira salah satu surat di kertas kecil yang kuingat. Rasanya aku mewarisi bakat menulis darinya. Oh ya, ia juga menulis surat untukmu. Surat pertamamu darinya adalah ketika kau belum berumur satu tahun. Hebat, bukan? Begitu sayang dan bangganya ia padamu, ia yakin kau anak yang supercerdas dan mampu membaca suratnya ketika gigimu baru berjumlah enam buah. Bukankah sekarang aku juga melakukannya? Beda, aku menulis surat ini untuk kau baca setelah kau benar-benar bisa membaca dalam arti sebenarnya dan memahami dengan baik.

Surat dari Mbah Bhinekmu untukmu, saat kau masih berumur 10 bulan.


Kau dan wanita-wanita dalam hidupku, selain ibumu. Mbah bhinek dan Budhemu
Aku dan mbah bhinekmu punya selera yang sama. Lidah kami sama-sama penyuka citarasa gurih, seperti umumnya orang-orang Madura. Kami sama-sama mudah tersinggung, juga khas orang Madura. Kami sama-sama suka membaca koran dan menonton acara-acara berita. Mbah bhinekmu sampai sekarang masih sering bertanya padaku, “Yo opo pendapatmu, le?”. Kami sering berdiskusi, tapi sekarang ia lebih sering hanya meminta pendapatku tanpa banyak “melawan”. Ia sudah cukup sepuh, analisanya sudah tak tajam.

Mbah Bhinekmu orang hebat. Ia pensiunan pegawai negeri. Ia pintar, sarjana. Menjadi sarjana di awal tahun 1970-an sama sekali bukan hal mudah dan tak semua orang bisa mendapatkannya. Beda dengan masaku, jadi sarjana sudah sangat biasa. Mudah, asal punya uang, tak perlu pintar. Buktinya aku. Aku tak pintar, tapi sarjana.

Mbah Bhinekmu juga sangat mandiri, karakternya keras tapi hatinya lembut, khas orang Madura. Aku menghormatinya. Salah satu buktinya bisa kau lihat dari caramu memanggilku dan ibumu: Abi dan Ummi. Mbah bhinekmu yang menyuruh begitu. Katanya agar suatu saat aku dan ibumu kami bisa naik haji. Agak tidak jelas relevansinya, katanya panggilan adalah doa. Tapi biarlah, asal ia bahagia, walau sejujurnya aku lebih senang kau memanggil kami bapak dan ibu. Lebih membumi rasanya.

Kau juga pasti ingin tahu tentang bapakku, yang juga mbah kakungmu. Sudah banyak orang bilang kau mirip dengan mbah kakungmu itu. Terkadang aku juga merasa begitu, terutama bentuk kepalamu dan rambutmu yang jarang di bagian belakang.

Mbah kakungmu juga pensiunan pegawai negeri. Agaknya karirnya cukup sukses. Beberapa orang bercerita, Ketika aku seumuranmu, sekitar awal tahun 1980-an, rumah kami sering didatangi tetangga yang ingin nonton televisi berwarna. Di kampung kami, hanya mbah kakungmu yang punya. Aku juga pernah melihat foto mobil terparkir di depan rumah kami. Kalau tak salah, Mitsubhisi Colt L-300. Cobalah googling jika kau ingin tahu bentuknya, karena sepertinya mobil itu mungkin sudah tidak ada di saat kau membaca surat ini.

Ia punya banyak kekurangan, tapi juga punya banyak kelebihan, sama seperti aku, ibumu, dan mbah-mbahmu lainnya. Tapi yang pasti, ia selalu berusaha memberikan terbaik bagi aku dan budhemu. Ia menjemputku dan budhemu setiap kami pulang sekolah. Ia bahkan memaksa mengantarku ke luar kota ketika aku melamar kerja, saat aku sudah dewasa. Sampai sekarang ia masih sering menanyakan kabarku, kau, dan ibumu. Juga masih sering sekali menelpon hanya sekadar menanyakan pekerjaanku, memastikan semua baik-baik saja. Minggu lalu ia masih mengantar budhemu ke dokter, dll. Perhatiannya luar biasa bahkan sampai usianya senja. Aku mencintainya, sama seperti aku mencintai kau, ibumu, mbah bhinekmu, dan mbah kakung serta mbah puteri dari ibumu.

Ia sosok yang tangguh. Badannya relatif besar, agak temperamental. Tapi seumur hidupku, ia tak pernah sekalipun memukulku. Sampai sekarang, di saat umurnya hampir 70, ia masih terlihat keren dan gagah, meski kulit yang mengeriput termakan usia memang tak bisa diedit di photoshop atau teknologi lainnya. Baju-bajunya lebih bagus dari bajuku. Jam tangannya bermerek, sepatunya bagus, jaketnya kulit, rambutnya klimis. Sampai sekarang, beberapa barangnya seperti baju, jaket, dan sandal masih suka aku “curi” darinya. Aku pinjam, tapi tak pernah kukembalikan.

Barang-barangnya adalah barang-barang terbaik di kelasnya. Ia menginap di hotel berbintang, makan di restoran mahal, pelesir di tempat-tempat bagus. Sebenarnya menurutku ia tak kaya, biasa saja. Hanya saja “tongkrongannya” memang istimewa. Ia royal, murah hati, dan ringan tangan.

Sahabat-sahabatku banyak yang “berteman” dengannya. Mereka menganggapnya bapak gaul. Di mata tetangga, mbah kakungmu adalah sosok yang disuka. Ia “kepala suku” yang menggagas acara sahur bersama di kampung. Bukan buka bersama, tapi sahur bersama. Satu kampung keluar jam 3 pagi buta untuk makan bersama, atas inisiatifnya. Anehnya semua menurut padanya, bukan karena terpaksa. Ia dihormati sekaligus disukai.

Tapi mbah kakungmu bukan sosok materialistis, ia tetap bersahaja. Ia tak canggung naik motor Star 86 miliknya, tapi juga terlihat sangat pantas di belakang kemudi mobilnya. Salah satu hal terbaik yang aku belajar darinya adalah “menjaga keseimbangan”. Kini, saat “masa-masa jayanya” telah lewat, ia tetap biasa saja. Tidak “post power syndrome”. Sekarang ia juga sudah mulai mau “kutraktir”. Beberapa tahun lalu, sangat sulit mewujudkan keinginanku untuk sedikit menunjukkan baktiku padanya. Ia sama sekali tak mau merepotkanku, sama seperti orang tua pada umumnya.

Mbah kakungmu menikah lagi. Kau punya beberapa om dan tante lainnya. Kami sering bertemu, selayaknya saudara. Sekarang, mbah kakungmu hidup bersama seorang wanita yang kami panggil Mami. Mami tak menggantikan siapa-siapa dan mendapat bagiannya sendiri di hatiku dan budhemu. Jangan tanya porsinya. Sama seperti ketika ibumu hadir dalam hidupku, ibumu tak menggantikan mbah bhinekmu. Aku tak bisa menjawab berapa prosentase cintaku pada ibumu dan berapa persen yang “tersisa” untuk mbah mbinekmu setelah dibagi dengan ibumu. Itu pertanyaan bodoh. 

Mbah kakungmu dan Masmu Izan, anak Budhemu

Kau dan Mbah Kakungmu. Rasanya memang mirip.
Azka...., apa yang kupaparkan di atas adalah identitas yang tak dapat kau ubah. Given! Kau lahir dari rahim ibumu, aku bapakmu, mereka mbah-mbahmu, ciri-ciri tubuhmu, semua adalah identitas yang melekat secara otomatis pada dirimu. Given. Tak bisa kau tolak, tak bisa kau ubah.

Setelah identitas pemberian Allah itu, ada identitas buatanku dan ibumu. Kami jadikan kau Islam. Aku adzan di telinga kananmu, iqomat di kuping kirimu. Kami beri kau nama Muhammad Raihan Azka. Raihan artinya wewangian surgawi, Azka berarti bersih atau suci. Muhammad? Aku yakin kau telah mengenal “Sang Cahaya” itu saat membaca surat ini. Kau kemudian pulang ke sebuah alamat yang juga jadi identitasmu. Kau jadi penduduk dari suatu wilayah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Identitas yang aku dan ibumu berikan itu sifatnya sementara, temporary, dan dapat kau ubah kelak ketika kau telah mempunyai pemahaman dan kemampuan berpikir yang baik. Kelak kau bisa memilih jadi warna negara bagian bumi manapun yang kau mau. Kau bisa mengubah namamu menjadi Richardo Lewis, Dewa Biru Laut Semesta, atau apapun yang kau mau. Bahkan kau pun mungkin memilih keyakinan yang kau anggap paling benar (Semoga Allah menetapkan Iman dan Islam-mu sampai akhir hayat lewat ikhtiarku dan ibumu). Apakah identitas yang kami diberikan harus kau ubah? Tidak juga. Kau tetap bisa mempertahankan identitas yang diberikan orang tuamu itu, jika kau mau.

Penentuan identitasmu itu akan berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama. Bahkan sampai akhir hayatmu kelak. Kau akan menentukan ungiven identity-mu sendiri. Kau akan membangun idealisme-idealismemu sendiri. Kau akan menentukan benar dan salah menurut pemahaman yang kau yakini. Tugasku dan ibumu adalah mendorong agar kau jadi sosok IDEALIS, BERANI MEMILIH dan mempunyai REASON atas identitas yang kau pilih. Kau harus idealis. Orang-orang yang tak idealis adalah orang-orang pengecut yang pilih aman, atau memang tak terlalu pintar karena tak mau belajar. Kau harus jadi anak pintar.

Kau tak boleh jadi anak alay yang tak punya idealisme dan tak paham identitasmu sendiri. Yang memotong rambutmu model spikey, penuh tato dan atribut-atribut punk agar terlihat keren tapi sama sekali tak punya pemahaman tentang kapitalisme yang menginjak kaum marjinal. Kau boleh memanjangkan jenggotmu, berjubah, dan melinting celanamu semata kaki, sepanjang dapat memberikan REASON mengapa kau melakukannya. Kau harus tahu siapa dirimu. Kau harus tahu kapan hanyut dan kapan melawan arus.

Untuk memiliki reason atas sebuah identitas atau idealisme, kau harus belajar. “Bacalah”, berpikirlah... Proses belajar itu lah yang kemudian membuatmu jadi dewasa, mengerti dan bertanggung jawab atas pilihanmu. Proses belajar juga akan membuatmu menghargai pilihan dan identitas orang lain. Kau akan paham bahwa pilihan idealisme seseorang juga memerlukan proses pemikiran dan memiliki reason (kecuali mereka yang tidak melakukannya). Kau juga akan mengerti bahwa orang-orang yang tidak dapat menghargai idealisme dan identitas orang lain adalah orang-orang alay yang tak pernah belajar identitasnya sendiri.

Azka, surat ini adalah salah satu ikhtiarku untuk mendidikmu. Membuatmu menjadi sosok tangguh. Mendidikmu adalah kewajibanku. Aku tak akan bosan-bosan membuat tulisan-tulisan untukmu, kau jangan bosan-bosan membaca tulisan-tulisanku. Aku masih punya banyak cerita untukmu.

Cukuplah surat pertama ini, semoga kau menikmati “metode pembelajaran” yang kupilih. Selamat ulang tahun, anakku. Aku tak punya kado apa-apa untukmu, hanya tulisan dan video pendek sebagai kenang-kenangan. Pesanku, yang akan aku ulang setiap kali aku menulis surat untukmu: Kelak jika aku dan ibumu telah meninggalkanmu, aku minta kau melakukan tiga hal: Doakan kami di setiap sholatmu, doakan kami di setiap sholatmu, dan doakan kami di setiap sholatmu. Kami akan teramat sangat butuh itu. Itu wasiatku.




Surabaya, 8 Maret 2014
(Dua hari sebelum ulang tahun pertamamu)
Aku yang menyayangimu,
Bapak alias Abi.





    

    

Saturday, July 02, 2011

Tentang (Blog) Saya


Selamat berjumpa kembali. Setelah tidak menulis untuk blog ini selama berbulan-bulan lamanya, agaknya saya harus sadar diri bahwa saya bukan penulis yang baik. Seorang penulis yang baik akan menulis seperti ia menghirup udara. Ia butuh menulis, kapan pun, dimana pun.

Saya tidak seperti itu. Saya membutuhkan cukup rangsangan untuk akhirnya memutuskan menulis. Kadang terangsang, tapi tetap juga tidak menulis.

Kenapa begitu? Karena saya menulis di blog ini bukan untuk orang lain, tapi untuk diri saya sendiri. Jadi kalau tidak ada yang membaca tulisan ini, ya tidak apa-apa, karena sebenarnya saya memang sedang berbicara dengan diri saya sendiri. Tapi bulshit lah kalau saya tidak senang jika banyak yang membaca tulisan saya, karena kalau ada orang lain yang menikmati pembicaraan saya dengan diri saya sendiri, ya itu kesenangan dan kebanggaan tersendiri.

Lalu apa perlunya bicara pada diri sendiri? Jawabnya adalah untuk menertawakan diri sendiri. Banyak sekali tulisan saya yang sebenarnya merefleksikan kebodohan dan ketidaktahuan saya akan banyak hal. Tentang Tuhan, tentang hidup, tentang cinta, tentang apa saja. Setelah menulis, saya sering kali baru sadar bahwa yang saya olok-olok dalam tulisan saya itu adalah saya sendiri. Lalu tertawalah saya pada diri sendiri.

Dengan menulis, saya belajar bahwa ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan. Ada banyak hal yang harus saya pikirkan dan segera harus dimengerti. Saya jadi menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, saya tidak tahu apa-apa tentang hidup, saya tidak tahu apa-apa tentang cinta, dan bahkan saya tidak tahu apa-apa tentang diri saya sendiri. Karena sering kali saya baru menyadari kekurangan diri sendiri setelah selesai menulis!

Coba lihat tulisan berjudul “Transportasi dan Transformasi Budaya”, “Realita Cinta, (Pipis) dan Rock & Roll”, “Rindu, Keju, dan Bokong”, “Tebak Nama”, “Big Match: Setan vs Malaikat Kebaikan”, “Bawakan Aku Surat Cinta”, “Cerita Berambut”, dll. Itu semua adalah cara saya menertawakan diri saya sendiri.

Yang saya olok-olok sebagai orang yang tak pernah sholat jamaah Shubuh di majid dekat rumah dalam “Transportasi dan Transformasi Budaya” itu ya saya. Yang tidak dapat menggunakan logika dan mengedepankan nafsu dalam “Realita Cinta, (Pipis) dan Rock n’ Roll”, ya saya ini. Yang tidak menyadari bahwa umur itu begitu cepat berjalan dan tidak menyadari bahwa kematian semakin dekat setiap detiknya dalam “Bawakan Aku Surat Cinta”, ya saya… iya, saya…, kamuu!! Ya kamuu, Diazzz!!!!!!

Hhh… baiklah. Cukup sudah obrolan dengan saya. Sebenarnya saya ingin berbicara lebih banyak dengan diri saya sendiri tentang sebuah hal. Tapi, saya harus berkompromi dengan diri sendiri juga. Makan, lalu istirahat. Selamat malam untuk diri saya sendiri, dan mungkin beberapa teman dan kerabat yang mampir ke blog ini.

Sunday, September 19, 2010

Transportasi dan Transformasi Budaya



Kiranya, masih jelas terekam di memori kita betapa alat komunikasi tercanggih di sekitar tahun 80’an adalah jaringan telepon fix cable, itu pun tak semua orang punya. Bagi sebagian kaum muda, “telepon rumah” tak mampu mengakomodir kebutuhan private convertation mereka. Solusinya: mengumpulkan banyak uang receh, dan pergi ke telepon umum. Risikonya: Dimarahi orang yang antri karena telepon terlalu lama.

Mau instant message? Pakai pager! Belum sempat booming, teknologi telepon nirkabel melenyapkan pager seperti tak pernah ada. Belum sempat bengkak jari ber SMS-an, semua harus cepat-cepat bergaul dengan internet yang membuat dunia seperti ada di genggaman. Semua bisa. Mulai dari sekadar mengirim dokumen, sampai urusan tetek bengek seperti cari jodoh.

Tak cukup nyaman hanya bisa diakses lewat personal computer (PC) atau notebook, internet hadir melalui telepon selular. Kini, semua bisa berselancar di dunia maya sambil meeting, sambil makan,atau sambil –maaf- buang air besar.

Tak perlu lagi langganan koran, baca saja versi online nya. Paperless dan ikut melestarikan hutan karena jumlah pohon yang dipotong dan dijadikan kertas jadi menurun. Tak perlu pasang iklan mahal, karena puluhan situs menyiapkan tempat iklan gratis dengan efektifitas yang bahkan mengalahkan iklan di media konvensional. Tak perlu kirim berkas, email saja. Tak perlu SMS, YM-an saja. Tak perlu telepon, Skype saja.

Suka tak suka, mau tak mau, perkembangan teknologi memang berpengaruh pada kehidupan kita. Yang tak punya mentalitas cair –seperti yang ditulis Presdir Globalteleshop, Bapak Djamiko Wadoyo di Kontan Weekend- pun kadang-kadang juga dipaksa cair. Kalau perlu dipanaskan, biar cair. Bagaimana tidak? Kelulusan atau pendaftaran sekolah saja sekarang diumumkan lewat website sekolah. Jadi meski tak bermental cair, orang tua sedikit banyak harus tahu internet, kecuali mau anaknya tak sekolah.

Perlahan tapi pasti, percepatan teknologi ini menggiring kita pada budaya serba instan, cepat, dan tak merepotkan. Sedikit demi sedikit, kebutuhan akan barang berteknologi tinggi menggiring mindset kita untuk hanya menggunakan parameter material guna menilai banyak hal. Yang baik adalah yang mahal. Yang bagus adalah yang berteknologi tinggi. Yang enak adalah yang cepat dan tak merepotkan. Dan itu masuk ke semua sendi kehidupan. Telekomunikasi, pendidikan, transportasi, hiburan, makanan, semua… semua.

Coba, apa hal yang langsung terlintas di pikiran kita jika harus mendefinisikan kemakmuran? BlackBerry Onyx? Mercy S Class? Apartemen? Liburan keliling dunia? Nasabah prioritas bank terkemuka? Atau minum kopi di Starbucks? Tak apa kalau itu memang yang terlintas di benak kita, karena memang itu yang menjejali pikiran kita setiap hari.

Lalu, coba lagi, image apa yang terlintas ketika kita harus menyebutkan parameter kemiskinan atau kekurangan? Makan seadanya? Rumah kontrakan? Jobless? Handphone jelek dan tak berwarna? Atau…, sepeda!

Kok sepeda? Ya, karena yang bersepeda adalah office boy, buruh pabrik, kuli, pedagang sayur, dan tenaga kasar lainnya. Pendapatan yang minim dan tak memungkinkan untuk membeli sepeda motor –apalagi mobil-, membuat saudara-saudara kita itu terpaksa naik sepeda ke tempat kerja.

CEO atau jajaran direksi naik sepeda ke kantor? Yang benar saja! Tak mungkin, unreasonable. Pernahkah kita melihat tempat parkir sepeda direktur? Tidak. Yang ada hanya aspal atau papan yang bertulis plat nomor mobil direktur.

Sebenarnya General Manager, Walikota, artis dan lainnya juga naik sepeda, tapi kalau ada perlunya. Memperingati hari tertentu, launching produk lalu mengadakan sepeda gembira, atau dalam rangka kampanye jelang Pemilukada.

Tidak bisa disalahkan juga. Ini masalah budaya. Budaya kita adalah budaya kesetaraan, budaya kepantasan. Bangsawan pantasnya menikah dengan priyayi. Aneh, saru, dan tak setara rasanya jika bangsawan menikah dengan pembantu. Suatu saat sang pembantu naik derajat, ya mantan pembantu itu tak akan menikahi orang yang derajatnya lebih rendah darinya.

CEO, General manager, bupati, walikota, artis, manager, ya pantasnya naik mobil. Staf administrasi, pegawai biasa, pedagang kelas menengah ya cocoknya naik motor. Buruh pabrik, kuli, office boy, PRT, ya cukup naik sepeda atau bemo saja lah. Ya memang begitu pakem nya, itu budaya nya.

Seperti halnya barang-barang mewah lainnya, alat transportasi juga menjadi tolok ukur kemapanan dan parameter status sosial. Jadi kadang-kadang malah lucu kalau banyak orang teriak-teriak –apalagi yang kaya- meminta pemerintah daerah atau pemerintah kota untuk menyediakan fasilitas transportasi umum yang baik. Karena, hal itu jadi terdengar seperti ini: Alat transportasi harus dibuat sebagus mungkin, infrastuktrurnya harus sesempurna mungkin, supaya orang miskin bisa menggunakan alat transportasi umum dengan nyaman, dan mengurangi kemacetan. Supaya yang kaya tetap boleh melenggang dengan nyaman di dalam mobil-mobil pribadinya. Suatu saat yang kaya jatuh miskin dan si Miskin mendadak kaya…, ya gantian lah…! Karena yang kaya “tak boleh” naik angkutan umum, berdesakan dengan “orang umum”. Orang kaya pantasnya naik mobil. Ya memang begitu pakem nya, itu budaya nya.

Tak percaya? Mari kita ambil contoh Kereta Komuter Surabaya-Sidoarjo saja sebagai sebuah contoh kecilnya. Pertama kali diluncurkan, kereta ini diharapkan akan berperan besar dalam mengurai kemacetan di banyak jalan protokol di Surabaya. Terutama Jalan A. Yani, salah satu nenek moyang jalan macet di Surabaya.

Dengan Kereta Komuter, orang Sidoarjo yang bekerja atau kuliah di Surabaya, harusnya bisa sampai di Surabaya dalam waktu sekitar 30 menit. Bandingkan dengan perjalanan dengan mobil atau sepeda motor pribadi yang mungkin akan memakan waktu dua atau tiga kali lipatnya pada jam-jam macet, saat banyak orang berangkat dan pulang kerja. Tapi apakah kemudian banyak orang beralih menggunakan kereta Komuter untuk berangkat kerja? Tak perlu dijawab dulu.

Mari lebih spesifik. Mungkin, ada puluhan, atau bahkan ratusan warga Sidoarjo yang kuliah dan atau berprofesi sebagai dosen di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Unair, bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Stasiun Gubeng Surabaya. Kurang lebih 10 menit ke Kampus A (Fakultas Kedokteran), atau sekitar 15 menit ke Kampus B.

Jalan pedestrian dari Stasiun Gubeng ke Unair, telah dibangun dengan apik. Pejalan kaki bisa berjalan dengan nyaman di trotoar dengan banyak pohon rindang. Tanahnya telah dipaving. Luasnya cukup untuk empat orang yang jalan berjejer. PKL nya sudah digusur semua, dipindahkan dan diberi tempat khusus di antara dua lapangan di Jalan Dharmawangsa. Beres sudah tugas Pemkot Surabaya. Tak mau berjalan di bawah matahari sedang bersinar terik? Setidaknya ada tiga bemo yang siap mengantar. Cuma butuh 30 detik untuk sampai ke Kampus A. 1,5 menit kalau terhadang lampu merah.

Ditilik dari kasus ini, tak ada yang salah dari infrastruktur yang disiapkan pemerintah kota. Semua tersedia. Bahkan bukan cuma tersedia, bagus pula. Tapi kenapa mahasiswa atau dosen Unair yang tinggal di Sidoarjo tak mau menggunakan Kereta Komuter untuk datang ke kampus? Boleh jadi masalah budaya itu lah jawabnya. Dan percayalah, ada mahasiswa-mahasiswa atau dosen kaya dari Sidoarjo yang lebih suka menggunakan mobil mereka daripada naik Kereta Komuter.

Alih-alih banyak yang beralih naik Kereta Komuter, Unair malah menjadi “sasaran empuk” Secure Parking, perusahaan outsourcing di bidang perparkiran. Tentu karena banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Coba kalau lebih banyak yang naik sepeda, kereta, atau angkutan umum lainnya, tentu Secure Parking tak membidik Unair sebagai target pemasarannya.

Yang jadi masalah lagi, dalam perjalanannya, karena tak banyak “orang kaya” Sidoarjo yang menggunakan Kereta komuter, kesannya kereta ini seperti diperuntukkan untuk kalangan bawah. Dan akhirnya, perawatan infrastrukturnya pun jadi sedikit tak terjaga. Kalau yang naik rakyat biasa, perawatannya ya biasa saja lah. Ya memang begitu pakem nya. Begitu budaya nya.

Selain Kereta Komuter, Surabaya beberapa waktu lalu marak dengan wacana pembangunan jalur khusus sepeda. Setidaknya ada dua calon walikota yang “tiba-tiba” berjanji membangun “jalur sehat itu”. Hal itu dicetuskan dalam acara sepeda gembira, yang tentu saja saat itu banyak orang bersepeda.

Ini adalah hal yang bagus. Tak ada yang menilainya buruk. Tapi pertanyaannya, jika jalur khusus sepeda itu sudah terealisasi, maukah kita memarkir sepeda motor atau mobil kita di rumah, dan kemudian mengemudikan sepeda untuk pergi ke kantor kita atau cari restoran saat akan lunch? Jangan-jangan malah dimanfaatkan oleh PKL untuk membuka lapaknya, atau jadi parkir liar karena sepeda yang lewat ya tetap milik buruh pabrik, kuli, atau pedagang sayur yang berangkat kerja. Lebih celaka lagi kalau pembangunan jalur khusus sepeda itu memakan sebagian jalan umum. Bukan mengatasi kemacetan, malah berpotensi memperparah.

Sepanjang dan semulus apapun jalan khusus sepeda yang dibangun pemerintah kota, tak akan berarti apa-apa jika kita tak merubah mindset kita, karena semua orang tetap akan memilih menggunakan mobil pribadinya, dengan segala fasilitasnya: Dingin, nyaman, bisa ber-BBM an pula. Dan yang paling penting, budaya kepantasan tetap terjaga.

Masalah transportasi bukan semata-mata masalah infrastruktur. Tapi juga masalah budaya. Dan berbicara tentang budaya, tentu ini tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Tapi juga masyarakat…, kita!

Mengatasinya masalah transportasi tidak cukup hanya dengan pembangunan jalur khusus sepeda atau penambahan jumlah angkutan umum. Jauh lebih besar dari itu, kita membutuhkan reformasi budaya dan mengembalikan alat transportasi pada esensi sejatinya. Bukan hanya sekadar menghantarkan kita ke tempat tujuan, tapi juga mempunyai fungsi sosial yang memanusiakan penggunanya.

Kalau sudah begini, yang dulu-dulu, yang tak berteknologi, yang murah jadi terdengar indahnya. Karena kalau misal nanti naik sepeda telah membudaya, akan membudaya pula sholat shubuh berjamaah dan bangun pagi –karena harus berangkat lebih pagi dibanding ketika naik mobil atau motor-, akan membudaya pula saling menyapa ketika bertemu tetangga atau kerabat saat bersepeda.

Kalau misal nanti naik angkutan umum sudah membudaya, akan tumbuh subur pula budaya-budaya positif lainnya, seperti budaya antri dan menjaga kebersihan fasilitas umum. Akan mengemuka kembali fitrah kita sebagai makhluk sosial karena kita akan banyak bertemu orang baru di angkutan umum. Akan bertambah pula rejeki kita karena kita semakin banyak link, setelah bertemu orang-orang dari banyak background usaha.

Memang ini tak mudah. Jauh dari kata gampang. Karena ini menyangkut merubah budaya. Tapi siapa bilang tak bisa? Hanya saja, setiap revolusi membutuhkan waktu yang tak sebentar, setiap reformasi selalu meminta sikap istiqomah atau konsistensi untuk mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan. Jadi seharusnya bisa kalau kita sepakat untuk memulainya.

Memulai apa? Mulai bangun pagi, mulai sholat shubuh jamaah di masjid dekat rumah, mulai jalan-jalan sore di komplek sekitar rumah, mulai membagi rejeki dengan abang tukang becak yang mangkal di depan kompleks, mulai memberi hari libur kepada pembantu rumah di hari minggu dan pergi sendiri ke pasar terdekat, mulai mengunjungi saudara-saudara dekat yang selama ini hanya bertemu saat lebaran, mulai apa saja lah…, memulai segala sesuatu yang bisa kembali melahirkan fitrah kita sebagai makhluk sosial. Karena boleh jadi, masalah kebangsaan kita –termasuk masalah transportasi- sebenarnya adalah masalah “human being”. Ego untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat “material” untuk diri kita sendiri.

Meminjam istilah A’A Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang. Menciptakan kata-kata saya sendiri, mulai dari berpikir, lalu menulis, dan kemudian melakukannya bersama-sama Anda. Karena saya tak mungkin bersepeda sendirian ke kantor, malu dan karena bersepeda belum membudaya di sekitar saya.

Tuesday, June 15, 2010

PLN, DBL, dan Pasar Atom



Begitu Dahlan Iskan terpilih jadi Direktur Utama PLN, saya percaya, haqul yaqin, bahwa PLN akan dapat mengatasi problem akut di perusahaan listrik negara itu. Kenapa? Karena Dahlan Iskan memegang kendali komunikasi. Titik.

Titik? Sebenarnya ada komanya: kemampuan teknis. Tapi saya betul-betul ingin mengatakan bahwa kendali komunikasi (ditambah kemampuan teknis) yang dimiliki Dahlan Iskan benar-benar punya “daya setrum” yang luar biasa. Dan “daya setrum” itu berasal dari genset bermerek Jawa Pos, salah satu media terbesar yang ada di Indonesia.

Apa hubungannya Jawa Pos dengan PLN? Apa korelasinya antara listrik dan media?
Salah satu masalah terberat PLN adalah krisis kepercayaan. Tak cuma dari masyarakat, tapi juga dari internal PLN sendiri. Masalah krisis listrik di negara ini menjadi puluhan kali lebih berat karena PLN bekerja di bawah sikap skeptis rakyat Indonesia dan karyawannya sendiri. Hasilnya: Menjadikan seluruh kabupaten dan provinsi di Indonesia bebas dari byar pet dianggap sama susahnya dengan membawa Timnas Indonesia masuk ke Piala Dunia. Sangat susah. Hil yang mustahal, kata Asmuni Srimulat. Kalau pun bisa, butuh waktu yang sangat lama dan bahkan hitungan dasawarsa untuk mewujudkannya.

Oleh karena itu, salah satu “pekerjaan wajib” Dirut PLN adalah “memberikan klarifikasi” kepada masyarakat dan internal PLN sendiri mengenai masalah-masalah riil yang terjadi di perusahaan listrik negara itu. Penjelasan itu menjadi penting, karena selama ini, tak ada informasi apa pun yang diterima masyarakat, kenapa Jakarta bisa blackout, kenapa krisis listrik tak kunjung bisa diatasi sehingga masih begitu banyak wilayah Indonesia yang masih mengalami pemadaman bergilir,dll. Jadi jangan salahkan rakyat kalau mereka tak percaya. Yang mereka tahu, PLN tak becus bekerja.

Dengan menulis, Dahlan sedari awal terus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai masalah-masalah riil yang terjadi di PLN. Lewat Jawa Pos, Dahlan bisa melaporkan progress tentang apa yang ia kerjakan. Lewat media, Dahlan bisa “meminta pengertian” masyarakat untuk sedikit “lebih bersabar”. “PLN sedang bekerja keras. Beberapa daerah sudah bebas byar pet, daerah Anda sebentar lagi,” begitu kira-kira yang terus disuarakan Dahlan setiap kali ia menulis di korannya sendiri, Jawa Pos.

Kompas, 19 Mei 2010, memuat tulisan yang judulnya saja mungkin memerahkan telinga Dahlan: “Target PLN Atasi Krisis Tak Tercapai”. Enam hari setelah itu, Dahlan langsung meng-counter lewat Jawa Pos. Ia paparkan kembali progress-progress signifikan yang telah ia lakukan di PLN. Ia yakinkan masyarakat bahwa apa yang dikatakan Kompas –yang juga kompetitor Jawa Pos- tidak sepenuhnya benar. Ia berikan data-data tandingan. Ia beberkan fakta-fakta yang mungkin selama ini tidak diketahui masyarakat. Tak cukup itu, beberapa minggu setelahnya, Jawa Pos memuat satu halaman penuh peta Indonesia! Isinya daerah-daerah mana saja yang sudah bebas pemadaman bergilir dan daerah mana saja yang belum, lengkap dengan tanggal target kapan daerah tersebut akan menyusul bebas byar pet.

Hebat! Artikel-artikel Dahlan Iskan yang diterbitkan secara terus-menerus, disadari atau tidak, akan menimbulkan sikap optimis di masyarakat, karena rakyat jadi tahu dan “tersugesti” bahwa PLN telah berhasil melakukan progress signifikan dan membebaskan beberapa daerah dari krisis listrik. Di kalangan internal PLN, itu jadi tantangan yang harus dihadapi dan harus berhasil dilakukan. Lha wong sudah diumumkan di koran terbesar kapan sebuah daerah bebas byar pet, kalau tidak sesuai jadwal, bisa digebuki orang satu kabupaten!

Kalau awak redaksi Koran, sih sudah biasa dengan deadline. Mau bumi berguncang, besok pagi koran harus terbit! Tapi karyawan PLN? Bisakah internal PLN melakukan budaya itu? Harus bisa, Lha wong sudah diumumkan di Koran. Apa mau digebuki orang satu kabupaten?!

Kalau nanti terbukti bahwa PLN sanggup bangkit dan membebaskan Indonesia dari “byar-pet”, itu bukan cuma karena Dahlan Iskan menguasai masalah kelistrikan, tapi juga karena ia pandai menulis, dan ada sebuah media yang selalu “sendiko dawuh” memuat tulisannya itu dan menjadi media komunikasi PLN dengan masyarakat luas, termasuk orang-orang yang selama ini meragukan kinerja PLN dan kepemimpinannya.

***

Hal yang sama dilakukan oleh anak laki-laki satu-satunya Dahlan Iskan, Azrul Ananda, yang sekarang sedang punya “hajat besar” dengan DBL nya. Anda tahu DBL? Saya yakin hanya sedikit dari Anda yang tak tahu. Apalagi bagi Anda pecinta basket. Deteksi Basketball Leauge yang sekarang telah diganti nama menjadi Development Basketball League ini menjadi harapan baru basket nasional. Popularitasnya bahkan mengalahkan NBL (dulu IBL), liga basket profesional Indonesia.

Begitu tinggi apresiasi masyarakat terhadap DBL, kini PT DBL Indonesia, pengelola DBL, dipercaya menjadi pengelola NBL. Ini sebenarnya lucu sekaligus ironis. Lha wong liga basket anak SMA kok bisa lebih sukses dibanding liga profesional. Kedengarannya kok aneh . Saru.

Tapi itulah yang terjadi dengan DBL. Dari sekadar kompetisi basket antar SMA di Surabaya yang dibuat sebagai salah satu even Deteksi, halaman muda Jawa Pos yang digagas oleh Azrul, DBL kini menjadi raja basket Indonesia. Mengambil alih liga profesional NBL, dan bahkan bekerjasama dengan NBA, liga basket paling popular di seluruh jagad.

Bagaimana DBL bisa sesukses itu? Jawabannya –menurut saya- cuma satu: Jawa Pos.
Saya tahu saya bisa dilempar sepatu oleh beberapa teman saya di PT DBL Indonesia atas pernyataan subyektif saya itu. Saya tahu betul ada kerja superkeras dari tim PT DBL Indonesia plus otak cemerlang Azrul dalam membangun DBL hingga sepopular sekarang. Tapi saya juga yakin DBL tak akan bisa sebesar ini, atau paling tidak menjadi besar secepat ini, tanpa Jawa Pos.

Sebagai putra pewaris tahta kerajaan media, Azrul Ananda punya power luar biasa di Jawa Pos. Ia bahkan bisa memerankan berbagai peran di salah satu koran terbesar di Indonesia itu. Wakil direktur, redaktur kota, redaktur hiburan, penulis F1 dan basket, atau apa sajalah yang menarik baginya.

Dengan “sejentikan jari” ia bisa menggusur berita-berita besar –yang mungkin jadi headline di Koran seluruh Indonesia- untuk ditempatkan di halaman atau posisi lain, dan menggantinya dengan liputan DBL. Saat even DBL digelar seperti sekarang, saya dapat pastikan berita tentang DBL ada di halaman satu Jawa Pos, atau paling tidak di halaman-halaman strategis lainnya, setiap hari. Mereka yang tak suka dan tak tertarik dengan basket, mau tak mau harus tahu dan “mencicipi” hebohnya DBL persis di saat loper Koran mengantar Jawa Pos ke rumah mereka. Paling tidak, membaca judulnya yang provokatif, atau melihat fotonya yang dramatis.

Sejak pertama kali digelar tahun 2004, kini siapa yang tak kenal DBL? kalau dulu hanya melibatkan emosi peserta dan teman-teman sekolahnya, kini keluarga, saudara, tetangga, dan bahkan masyarakat luas ikut larut dalam euforia DBL. Kenapa bisa begitu? Karena selama enam tahun (setiap hari selama DBL digelar) Jawa Pos terus “mengedukasi” pembacanya yang sangat besar jumlahnya, bahwa DBL heboh, seru, dan keren.

Salahkah? Tentu saja tidak. Karena salah satu “kesaktian” media adalah membentuk opini. Lama-kelamaan, jika diopinikan secara konstan, sesuatu yang diopinikan akan benar-benar menjadi kenyataan.

Saya sedikit banyak tahu perjalanan DBL. Dua tahun pertama diselenggarakan, saya kebetulan menjadi bagian dari usaha untuk membangun DBL. Saya dan seorang teman yang sekarang menjadi dosen Unair –saat itu wartawan olahraga Jawa Pos-, adalah orang yang “ketiban sampur”, ditugasi oleh Azrul untuk menulis berita-berita DBL. Saya belajar bagaimana seorang Azrul membangun opini mengenai DBL, dengan selalu berusaha membangun citra positif DBL.

Di tahun-tahun pertama, mungkin tak begitu terasa efeknya. Tapi itu menjadi pondasi yang sangat kuat dan menentukan arah ke depan. Hasilnya: DBL kini bahkan telah menjadi perhatian NBA sekalipun.

Saya masih ingat betul bagaimana Azrul dengan disiplin superketat menuntut saya tak hanya menulis dengan baik, tapi juga membangun keterikatan emosional peserta, sekolah, keluarga, dan semua masyarakat pada DBL dengan media Jawa Pos. Begitu “menakutkannya” tugas itu, tak ada satu pun penulis yang berani menerima tugas itu. Kalau pun berani, jika masih punya pilihan, saya yakin mereka memilih untuk tidak menulis DBL, karena begitu kerasnya Azrul pada penulisnya. Sementara saya, waktu itu memang jadi “penulis langganan” Azrul. Sebab ketika itu saya ada di desk hiburan dimana azrul tercatat sebagai redakturnya. Penulis lain akan panik kalau saya sakit,atau berhalangan kerja. Saya juga panik, tapi tak ada pilihan.

Di awal DBL, saya sering (harus) menulis “Ribuan orang datang menyaksikan DBL”, tapi orang tak sadar setelah kalimat itu ada kalimat “yang menonton secara bergantian dalam tiga pertandingan”. Foto diambil dari angle yang terlihat sangat penuh. Empat lima orang suporter atraktif difoto dengan baik, ditampilkan dalam koran esok pagi, dan lusa ratusan suporter lain akan berlomba-lomba adu kreasi agar bisa masuk koran juga. Siapa yang tak bangga fotonya ada di koran sebesar Jawa Pos? kadang saya juga merasa akhirnya banyak yang over acting juga, baik pemain, penonton, atau bahkan official nya.

Siapa bilang itu bohong? Semua faktanya ada dan benar. Cuma permainan teknis media saja. Pada awal-awal DBL kesan “settingan” memang terasa, itu pun bagi orang-orang yang sensitif. Tapi lihatlah sekarang. DBL memang benar-benar heboh,seru, hebat.

Kini DBL benar-benar tersebar di seluruh nusantara. Memberangkatkan pemenangnya untuk bertanding dengan tim-tim SMA luar negeri, mendatangkan pemain-pemain NBA, dll. Sekarang, DBL benar-benar hebat.
Hari ini, yang tak tahu DBL adalah anak-anak muda yang ndeso dan orang-orang tua yang tidak mengikuti perkembangan jaman. Hebat, nggak? Hebat. Kok bisa hebat? Karena kerja superkeras tim DBL, otak cemerlang Azrul Ananda, dan Jawa Pos sebagai faktor utama (menurut saya).

***

Sebenarnya, dalam tulisan panjang ini saya hanya ingin mengatakan bahwa media punya peran yang sangat besar dalam memenangkan persaingan. Sebab, ia mampu menjadi doktrin yang akan diyakini tanpa paksaan. Sangat smooth dan melenakan.

Kita tak harus punya media sebesar Jawa Pos untuk membentuk opini dan kemudian merebut hati pasar. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan komunikasi dengan intens dan memastikan orang-orang yang ada dalam lingkungan bisnis kita, berpikir seperti yang kita inginkan.

Komunikasi seperti apa? Iklan? Ya. Website? Bisa. SMS interaktif? Mungkin saja. Tapi siapa bilang kita tak bisa membuat “Jawa Pos” kita sendiri? Tak perlu oplah ratusan ribu. Cukup dibaca oleh orang-orang yang ada di lingkungan bisnis kita saja dan berpotensi menguntungkan kita dan lingkungan bisnis itu sendiri. Bisa karyawan, customer, atau stakeholder.

Apa bisa? Tentu saja! Tak perlu dulu seperti Unilever, yang dengan media internal nya, bisa memberikan “perlawanan”, ketika perusahaan tersebut diprotes oleh organisasi lingkungan hidup Green Peace. Ambil saja Pasar Atom sebagai contohnya.

Empat tahun lalu, ITC Mega Grosir dibangun tepat di depan Pasar Atom. Itu cukup menjadi ancaman bagi Pasar Atom yang juga baru saja membangun Pasar Atom Mall, pengembangan dari Pasar Atom lama yang bernuansa grosir tradisional.

Saat itu pula, Pasar Atom menerbitkan majalah Shopping at Pasar Atom. Apa manfaatnya? Tak akan merubah apa-apa. Tambah budgeting, malah. Begitu kira-kira pikiran banyak orang. Memang betul. Tapi itu tahun-tahun pertama. Lihatlah sekarang. ITC tak mampu menandingi “keperkasaan” Pasar Atom dan Pasar Atom Mall yang tingkat okupansinya selalu tak kurang dari 95%.

Apa itu peran majalah Shopping at Pasar Atom? Sedikit banyak, ya! Karena majalah itu mampu membentuk opini dan menciptakan keterikatan emosional antara pengunjung, tenant, dan pengelola Pasar Atom.

Ia menjadi daya pikat orang untuk lebih memilih belanja atau membuka toko di Pasar Atom dibanding di ITC. Kenapa? Karena majalah itu mengajak satu orang setiap bulannya untuk belanja gratis bareng majalah Shopping at Pasar Atom, judul rubriknya: Shopping with u! Karena ada kuis dan discount di majalah itu. Karena ada ada hadiah uang tunai setiap kali berbelanja di tenant-tenant yang memasang iklan di majalah Shopping at Pasar Atom. Karena ada profile tenant dan liputan mengenai toko-toko baru di majalah bulanan itu. Dan semuanya gratis karena majalah dibagikan cuma-Cuma dan bisa didapat di banyak tempat di surabaya. Mulai hotel, taksi, resto, lounge, gym, dll.

Yang juga menarik, majalah ini bahkan kini bersaing dalam arti sesungguhnya dengan majalah-majalah komersil lokal surabaya. Karena banyak pengiklan yang ingin masuk ke majalah ini. Bahkan redaksi seringkali menolak dengan alasan melindungi kepentingan pedagang Pasar Atom. Kini, majalah Shopping telah terbit selama empat tahun tanpa jeda.

“Ooohhh.. jualan!” begitu pasti gumam Anda. “Oohhh…. Diaz narsis. Lha wong Shopping at Pasar Atom itu kamu yang ngerjain!” Memang iya, tapi saya yakin di awal tulisan tadi telah membentuk opini, dan secara smooth telah mempengaruhi pembaca. Narsis Itu juga salah satu ilmu yang saya pelajari dari Azrul Ananda.. heheh..Selamat membentuk opini . 

Saturday, May 08, 2010

Izin Aku Mencintai-Mu Semampuku

*dikutip dari Renungan Kisah Inspiratif

Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ilaahi,,,aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah,,, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Robbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku.

Yaa, Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahiim,,,
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites