Transportasi dan Transformasi Budaya

Boleh jadi, masalah kebangsaan kita -termasuk transportasi- adalah masalah "human being". Ego untuk mendapat hal-hal "material" untuk diri kita sendiri.

PLN, DBL, dan Pasar Atom

Dahlan sukses di PLN karena kendali komunikasi, DBL besar (salah satunya) karena JP, Atom menang bersaing karena (salah satunya) media internal.

Rindu, Keju, dan Bokong

kenapa bagian bawah punggung kita dimakan bokong? Kenapa tidak keju? Kenapa keju tidak dinamakan bokong saja? Kenapa?.

Realita Cinta, (Pipis), dan Rock n Roll

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara cinta dan kebelet pipis. Keduanya mendesak, top number 1, dan menimbulkan efek suara yang sama: Ahhh..

Cerita Berambut

Dulu, saya benci sekali potong rambut. Selalu meras lebih pede dan "dapet gaya" dengan rambut gondrong. Demi masa, begitu cepat waktu berlalu.

Thursday, December 24, 2015

Laki-Laki dan Ejakulasi Dini

Sungguh berat menjadi laki-laki di negeri ini. Kalau saja ukuran laki-laki hanya memakai parameter otot bisep yang mengembang, dada yang bidang, atau seberapa besar peluang untuk menjatuhkan lawan, tentulah menjadi laki-laki dapat dengan mudah diraih, atau paling tidak bisa dilatih.

Tapi sungguh menjadi laki-laki jauh lebih sukar dibanding sekadar memiliki tubuh kekar. Sedari kecil, laki-laki selalu didoktrin sebagai  pemikul beban. Pria-pria kecil selalu disiapkan oleh para orang tua untuk menjadi pemimpin, pelindung, dan pengambil keputusan. Ketika jatuh tak boleh menangis, karena ia laki-laki. Saat bermain harus mengalah pada yang lemah, karena ia laki-laki. Beranjak remaja, ia harus yang pertama kali menyatakan cinta, karena ia pria. Ketika hendak  menyeberang jalan, ia harus bersedia memosisikan diri untuk tertabrak duluan.

Ketika dewasa, soal ujian para lelaki tak berhenti, malah menjadi-jadi. Mau melamar pacar, kerjamu apa? Bagaimana mungkin calon mertua melepaskan anak wanitanya pada pria yang  tak jelas masa depannya? Mau diberi makan apa?  Mau tinggal dimana? Tahukah kamu, hai calon menantu, harga properti begitu gila. Di kota besar seperti Surabaya, misalnya, harga rumah sama absurdnya dengan sinetron Ganteng- Ganteng Serigala. Rumah 5 X 10 meter yang ketika kita membuka pintu utama langsung bisa melihat tembok paling belakang, harganya bisa Rp 400 juta.  Laki-laki harus rajin membaca berita ekonomi, agar tahu fluktuasi bunga yang begitu tinggi. Laki-laki harus menyiapkan daya tahan selama belasan atau bahkan puluhan tahun ke depan, dimana tiba-tiba cicilan bisa naik signifikan.

Para pria yang akan masuk ke jenjang menikah juga dihadapkan pada  begitu banyak tantangan lainnya, dimana kredibiltasnya sebagai laki-laki dipertaruhkan. Soal kawin soal gampang, mudah, tapi nanti ketika Sang Buah Hati sudah dikandung istri, berapa biaya yang harus dipersiapkan untuk memastikan sebagian tulang rusuk kita itu berada dalam perawatan dokter berpengalaman, tidak tidur di kasur tipis setelah berjuang mati-matian, di sebuah bangsal rumah sakit yang kumuh?

Next, ketika anak sudah lahir, laki-laki harus mengatasi segala kondisi gawat darurat, termasuk jika Si Kecil jatuh sakit. Berapa biaya rumah sakit di jaman ini? Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar premi asuransi mengingat kondisi gawat darurat dapat datang setiap saat. Laki-laki harus selalu memastikan anak istrinya mendapatkan penanganan terbaik.  

Rumit, bukan? Belum. BBM dan tarif dasar listrik yang terus melambung membuat harga kebutuhan pokok juga terkerek. Biaya kebutuhan hidup tak bisa tak bisa diundur seperti mekanisme pencairan BG mundur. Apalagi di jaman sekarang yang kebijakannya cenderung liberal. Bagaimana mungkin BBM, listrik, dan hal lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak diserahkan pada mekanisme pasar? Naik dan turun mengikuti nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia. Jadi misalnya, seperti kejadian beberapa saat lalu dimana Rusia dan Turki bersitegang, kita harus ikut tegang karena konflik dua negara nun jauh di sana itu berpotensi memengaruhi naiknya harga minyak dunia, dan itu berarti harga BBM dan listrik di negara kita akan naik juga. Jangan heran juga kalau semisal The Fed (Bank Sentral Amerika) menaikkan suku bunga, maka nilai tukar rupiah turun. Akibatnya: BBM dan listrik akan sangat mungkin naik juga.

Tapi kalau minyak mentah dunia turun kan BBM kan juga turun seperti awal 2016 ini? Iya, tapi coba lihat grafiknya. Tahun 2011 Harga terendah minyak mentah dunia adalah USD 102, saat itu premium dijual Rp 4.500. Tahun 2015, harga minyak mentah dunia USD 36,3, dan harga premium Rp 7.400.  Terlihat grafiknya? Tidak? Tapi sudahlah, masalahnya sebenarnya bukan naik atau turunnya, tapi penerapan kebijakan neo-liberal. Saya setuju jika subsidi BBM dicabut dan khusus diberikan pada yang berhak, yang lain harus minimal pertamax. Setuju. Tapi mendasarkan kenaikan dan penurunan BBM dan listrik dengan menyerahkannya pada mekanisme pasar? Rrrrrr.....

Oke lah. Balik lagi soal laki-laki. Yang juga sangat-sangat krusial adalah pendidikan. Terus terang saja, sekolah-sekolah negeri kini kalah pamor dengan sekolah swasta yang memang memiliki kualitas dan metode pembelajaran yang lebih baik. Apa boleh buat, biaya pendaftaran SD yang mencapai belasan juta dan SPP yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah pun harus diusahakan dengan segala daya upaya demi masa depan Sang Buah Hati. 

Apalagi? Apalagi? Berikan semua bebannya. Semua laki-laki tak akan lari dari tanggung jawabnya, meski mungkin tak bisa membuat semuanya sempurna. Semua laki-laki telah terlatih sejak kecil untuk menjadi pemimpin. Dalam otaknya telah tertanam bahwa ialah pelindung. Ia tahu bahwa ia adalah penanggung jawab. Ia bersedia melakukan apa saja untuk mereka yang dicintainya. Ia sanggup menanggung risiko apapun, bahkan menjadi mengorbankan dirinya sekalipun untuk memastikan anak dan istrinya dalam kondisi baik-baik saja: Aman, tenteram, kenyang. 

Ia hanya berderai air mata melihat tangan kecil anaknya tertusuk  jarum infus, ditangani oleh dokter muda yang sedang praktikum, dengan peralatan seadanya. Ia hanya teriris hatinya melihat anaknya tak bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya, dengan fasilitas yang sama, dengan metode pengajaran yang dikembangkan sekolah-sekolah masa kini. Lelaki berusaha memberikan perawatan terbaik untuk istrinya selama proses kehamilan dan melahirkan, sebagai ungkapan terima kasih telah mengandung darah dagingnya. Pria  selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak istrinya, meski ia tahu tak bisa membuat semuanya sempurna. 

Laki-laki selalu memiliki banyak rencana.Plan A, Plan B, Plan C, Plan D,dan seterusnya hingga emergency strategy. Laki-laki (sejati) juga selalu tertawa mendengar istilah Keluarga Berencana yang sampai saat ini masih didengung-dengungkan pemerintah. Apanya yang direncanakan? Tanpa diminta pemerintah pun, laki-laki selalu punya banyak rencana indah untuk keluarganya. Hari ini, rencana memiliki banyak anak adalah sebuah rencana gila. Bahkan berhubungan suami istri pun kini menjadi aktivitas “menakutkan”. Kekhawatiran laki-laki di masa ini bukan lagi penyakit ejakulasi dini,  tapi justru takut “jadi”!

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2014 menyebutkan, dari total jumlah wanita atau ibu usia subur pengguna alat KB , persentasenya terus meningkat dari tahun ketahun.  Bahkan pada tahun 2014 mencapai 62,50%. Bahkan metode KB pada pria juga terus mengalami peningkatan, meski tak terlalu signifikan karena mungkin menyangkut urusan“kejantanan”. Dalam sebuah berita yang dirilis oleh Republika, Maret 2014 lalu, jumlah pria yang melakukan vasektomi bahkan tiga kali lebih banyak dari yang ditargetkan oleh BKKBN Yogyakarta.

BKKBN berhasil, kita tak bisa mengenyampingkan data tersebut di atas. Tapi apa benar  keiikutsertaan masyarakat benar-benar karena kesadaran dan implementasi dari jargon "Dua Anak Cukup". Apa benar ini karena keberhasilan pemerintah dalam menanamkan mindset bahwa keluarga kecil dan terencana bisa lebih menjamin keluarga bahagia? Apa betul ini keberhasilan pemerintah lewat BKKBN dalam menyosialisasikan penggunaan alat kontrasepsi yang benar? Kalau hanya masalah kontrasepsi, harus diakui anak-anak muda sekarang sungguh sudah sangat canggih dalam berimprovisasi”, bukan?

Mari memandang persoalan ini dari perspektif yang lebih luas. Keluarga berencana bukan hanya soal dua anak cukup dan pemasangan alat kontrasepsi yang benar. Jauh lebih besar dari itu, Program Keluarga Berencana yang digagas pemerintah Indonesia sudah seharusnya menyentuh esensi dan hal yang paling mendasar dalam kehidupan bernegara: Memastikan semua rakyat Indonesia sejahtera! Karena sesungguhnya keluarga sejahtera adalah sebaik-baiknya rencana. Selama harga rumah masih supermahal  dan suku bunga KPR begitu tinggi, sekolahan tak ubahnya seperti perusahaan yang menjadikan pendidikan sebagai bahan jualan, biaya kesehatan edan-edanan, BBM naik, tarif dasar listrik semakin mencekik, harga sembako bikin K.O., maka sesungguhnya program keluarga berencana telah sukses dilaksanakan. 

 Ada baiknya kita lupakan saja dulu Program Keluarga Berencana. Para pria  tak sempat memikirkannya karena sedang sibuk kerja, kerja, kerja, mengerahkan segala daya upaya dan berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan keluarga kecilnya hidup sejahtera. Kita bicarakan lagi nanti, saat para lelaki  bisa benar-benar menikmati hubungan suami istri.

Image ini tidak ada kaitannya dengan tulisa di atas. Saya temukan dengan mengetik keyword "Ejakulasi Dini" di image.google.com. Siapa tahu bermanfaat, Daripada saya kasih gambar pisang, saru.

Tuesday, December 09, 2014

Kurio, Obat Edan!


 
Zaman Edan! Bahkan Jayabaya, Sang Raja Kediri yang mahsyur dengan ramalan-ramalannya -termasuk mengenai datangnya zaman edan- mungkin juga tak pernah menyangka bahwa zaman akan menjadi seedan ini. Ia mungkin tak akan membayangkan bahwa beratus-ratus tahun setelah masanya, perang tak lagi menggunakan keris, tombak, atau keahlian-keahlian yang bersifat gaib.

Sesakti apa pun Jayabaya, terawangannya mungkin tidak mampu menggambarkan bahwa pada zaman ini akan terjadi perang mahadahsyat, yang tidak lagi menggunakan kekuatan senjata atau hal-hal yang bersifat fisik lainnya, melainkan memakai teknologi informasi yang bernama internet yang “daya sihirnya” jauh lebih besar dibanding santet.

Perang yang mematikan tubuh sudah tak lagi musim, ndeso, so yesterday. Perang hari ini adalah perang pemikiran dan cara untuk memenangkannya adalah dengan meluncurkan bom-bom opini serta menembakkan rentetan tulisan dan pesan yang juga tak kalah mematikan dibanding senapan. Parameter kemenangannya juga bukan lagi berapa banyak “musuh” yang mati, tapi berapa banyak lawan yang hijrah menjadi kawan.

Semua orang pasti setuju bahwa dewasa ini sedang terjadi perang yang sangat dahsyat, kecuali dua golongan: Mereka yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, atau mereka yang masih belum punya koneksi internet. Eh, ada satu lagi: Mereka yang terkoneksi dengan internet tapi hanya digunakan untuk main poker online atau sekadar memantau berita-berita mengenai gaya terbaru Syahrini, aktivitas teranyar para pemeran sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, atau semacamnya. Sebenarnya golongan ini juga termasuk golongan pertama yang tidak tahu bahwa yang sebenarnya terjadi adalah perang budaya. Agar anak-anak kita terbiasa menilai segala sesuatu secara material. Agar parameter kehidupan ideal yang ada dalam pikiran kaum muda kita menjadi superdangkal: Ganteng, cantik, tajir, dan bisa berpindah tempat dalam waktu sekejab... Wusshh!!

Perang ini memang terjadi di medan peperangan yang sangat luas dan bahkan tak terbatas. Sasaran tembaknya juga jauh di luar batas-batas teritorial, masuk ke aliran darah dan memengaruhi pola pikir kita. Kalau dulu kita banyak melihat tank, bazoka, kapal perang dan semacamnya, maka peralatan tempur paling efektif pada era perang kekinian adalah social media seperti Facebook, Twitter, Path, dan semacamnya (termasuk halaman ini) serta portal-portal berita yang dewasa ini menjamur bak ragi dalam proses pembuatan tempe.

Dulu, sebenarnya media-media massa termasuk portal-portal berita online ini menjadi semacam salah satu benteng pertahanan dalam era perang modern. Tapi apa lacur, banyak media-media massa kini justru menjadi bagian terintegrasi dari peperangan itu sendiri.

Banyak media menanggalkan fitrahnya sebagai penyeimbang, bersikap netral dan bertugas menjadi corong suara rakyat. Mereka berdiri pada positioning mereka masing-masing dan kemudian membuat medan-medan tempur yang sangat sengit di dunia maya. Arus informasi pun mengalir dengan sangat dahsyat bagaikan tsunami yang menerjang. Siapa saja yang tidak punya sensitifitas yang baik terhadap informasi-informasi yang datang bertubi-tubi dan tanpa jeda tersebut, maka merekalah sebaik-baiknya “tanah jajahan”.

Perang ini telah memakan banyak korban. Anda lihat bagaimana kita saling mencaci, mengejek, bermusuhan, dan bahkan hampir saling bunuh ketika pilpres kemarin berlangsung? Anda lihat bagaimana anak-anak muda kita sekarang hobi sekali bunuh diri hanya karena masalah-masalah percintaan yang tidak seindah kisah sinetron atau tak kuat menghadapi kenyataan bahwa ayahnya hanya seorang kuli panggul di pasar tradisional yang tak mampu membelikannya sepatu baru agar terlihat keren di mata teman-temannya? Anda lihat bagaimana agama beralih menjadi komoditas perdagangan yang sangat menggiurkan? Anda lihat bagaimana perubahan cara pandang kita terhadap Tuhan, nilai-nilai agama, dan budaya, serta cara memperlakukan dan menghormati orang tua? Anda lihat? Tidak? Anda tidak lihat? Anda tidak merasa kita sedang dalam situasi peperangan? Termasuk golongan manakah Anda?

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita telah ada dalam kancah perang informasi ini, dan sebaik-baiknya pertahanan adalah imunitas kita sendiri. Bentuk imunisasi yang paling baik adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya literatur, sebanyak-banyaknya berita, sebanyak-banyaknya informasi. Karena dengan begitu, kita dapat membandingkan antara satu source dengan source lain, kita bisa memahami dengan lebih baik, dan kemudian kita dapat menyimpulkan informasi mengenai isu tertentu menurut “nilai kebenaran” kita masing-masing. Karena pertahanan terbaik di masa ini adalah pengetahuan. Knowledge is power!Namun membandingkan satu sumber berita dengan sumber berita yang lain juga cukup merepotkan. Bagi pemakai smartphone misalnya, agaknya harus memberikan space lebih di memory-nya untuk meng-install banyak sekali aplikasi dari masing-masing portal berita. Pusing juga harus berkali-kali switch dari satu aplikasi dan aplikasi lainnya untuk mendapatkan berita pembanding agar informasi yang kita dapatkan lebih berimbang.

Di tengah kegalauan tersebut, hadir sebuah smart news application, Kurio yang merupakan aplikasi yang mengompilasi berita-berita dari berbagai portal berita. Kita bisa memilih portal-portal berita yang akan disuguhkan kepada kita, termasuk portal-portal yang selama ini secara gamblang mempunyai positioning (baca: kepentingan) berbeda. Dengan begitu, kita bisa membaca satu berita yang sama dengan angle yang berbeda dari beberapa portal berita. Buat saya pribadi, Kurio adalah semacam imunisasi yang akan menangkal berbagai “penyakit” dan membuat pikiran kita lebih terbuka dan terbiasa menilai sesuatu dengan lebih obyektif dan dalam perspektif yang lebih luas.

Yang juga sangat menarik, kita bisa melakukan filter mengenai apa-apa saja yang ingin kita baca dan tidak. Kurio memberikan peluang kepada kita untuk hanya memilih rubrikasi-rubrikasi atau tema yang menarik buat kita. Saya misalnya, memilih tema-tema politik (news), bisnis, otomotif, gadget, sports, dan “tema-tema pria” lainnya. Dengan meng-install Kurio, saya merasa sangat beruntung tidak lagi mendapati berita mengenai “Cara Mengetahui Sifat Wanita dari Cara Jalannya”, “Tips Agar Tahan Lama di Ranjang”, atau kasus perceraian Si Ini, Si Itu, dan lainnya dalam aplikasi berita di smartphone saya.

Selain itu, yang tidak bisa kita dapatkan dari aplikasi berita lainnya, kita akan mendapatkan notifikasi mengenai berita-berita terbaru pada smartphone kita meski kita tidak sedang membuka Kurio. Hanya saja, saya belum mengerti pertimbangan apa yang mendasari Kurio saat akan mengirim notifikasi kepada user-nya. Berita yang direkomendasikan dalam notifikasi memang masih berhubungan dengan tema yang saya pilih sebelumnya, tapi kapan notifikasi itu dikirim, itu yang belum jelas. Kadang saya terima, kadang tidak. Selain itu, terkadang berita pilihan Kurio yang dikirim tidak menarik bagi saya -meski masih dalam tema pilihan-. Dalam fitur ini, keahlian "Admin Kurio" dalam menebak selera pembacanya mungkin perlu dikaji kembali

Notifikasi lainnya juga kita terima ketika sedang membuka Kurio. Seringkali kita akan mendapatkan notifikasi “New Articles” yang menandakan ada informasi-informasi baru yang belum kita baca ketika pertama kali membuka Kurio.

Kurio punya banyak kelebihan, tapi juga punya beberapa kelemahan. Tentu saja kelebihan dan kelemahan itu bersifat sangat relatif, karena yang baik menurut saya, belum tentu baik menurut Anda. Salah satu yang bisa diperdebatkan dalam aplikasi kurio ini adalah tidak adanya peluang bagi kita untuk memberikan komen terhadap sebuah berita. Diakui atau tidak, budaya komentar ini agakya memang sudah mendarah daging dan jadi budaya kita. “Berbantah-bantahan” hari ini jadi sesuatu yang sangat mengasyikkan. Itulah sebabnya jadi agak aneh ketika Kurio tidak memberikan ruang komentar pada aplikasinya.

Alih-alih menjadi kelemahan, menurut saya itu justru jadi sebuah kelebihan, karena dengan tidak adanya ruang komen, kita tidak perlu merasa ‘tertekan” atau terpengaruh ketika pandangan kita tidak sejalan dengan arus utama yang terkadang tercermin (atau diciptakan oleh para “cyber troops” untuk kepentingan tertentu) dalam komen-komen tersebut. Toh, Kurio juga menyediakan panel khusus yang mengarahkan kita untuk masuk ke portal penulis berita tersebut. Di sana, kita bisa menuangkan komen kita. Kita tinggal klik panel “View Original Article” untuk menuju source aslinya. Yang patut dipuji, kita tak perlu switch aplikasi untuk masuk ke Kurio kembali. Cukup tekan panel “Back to Kurio” di bagian pojok kiri atas, done!

Selain itu, ada beberapa hal yang menurut saya cukup menggangu. Misalnya mengenai banyaknya judul-judul yang terputus. Bahkan ada yang terputus sambungan katanya seperti pada judul “Stephanie Roche, Wanita yang Bisa Cetak Sejarah Denga...”.  Di luar fitur-fitur tersebut, saya tidak akan membahas bagaimana cara meng-install Kurio karena rasanya seperti menganggap Anda semua adalah orang-orang gagap teknologi. Yang jelas, aplikasi ini sangat user friendly. Pengguna platform Android dan iOS akan dapat dengan mudah menjalani proses meng-install Kurio, meski memang ada beberapa tahap yang tidak Anda temui ketika meng-install aplikasi berita lainnya, berkaitan dengan beberapa fitur seperti pemilihan tema dan source berita yang tidak dihadirkan di aplikasi lainnya. Oh ya, aplikasi ini mempunyai desain antarmuka yang dinamis dengan pewarnaan yang sangat muda. Kita juga bisa memilih background bodytext yang sesuai dengan kenyamanan kita. Tak lupa, fitur standar tapi sangat penting juga ditanamkan: Share. Kita bisa membagi link berita ke berbagai aplikasi social media.
Yang membuat saya lebih semangat, aplikasi ini adalah asli buatan Indonesia: Merah Putih Inc. Saya "curiga" bahwa diluar kepentingan bisnis, ada semacam tanggung jawab sosial yang menjadi pertimbangan lahirnya aplikasi ini, yakni membuat masyarakat kita terhindar dari penyakit "edan" akibat serbuan informasi yang menggila ini. Menurut saya, saling berdebat, mencaci maki, dan bahkan saling membunuh karena sebuah berita adalah sebuah bentuk keedanan masa kini yang harus disudahi.

Akhirnya, semoga hadirnya Kurio bisa menjadikan pikiran kita lebih “imun” terhadap berbagai informasi yang mewabah ini. Membuat kita lebih peka terhadap sebuah isu, dan yang paling penting menyadarkan masyarakat bahwa kita sedang berada di sebuah era peperangan modern yang menuntut sensitifitas dalam mengkonsumsi sebuah berita. Lebih besar dari itu, saya berharap aplikasi lokal ini dapat mengembalikan kita semua pada semangat kebersamaan melalui proses pencerdasan, dimana pengetahuan adalah sebaik-baiknya kekuatan. Salam Merah Putih.

Saturday, March 08, 2014

Antara Aku, Kau, Ibumu, dan Mbah-Mbahmu (Surat untuk Azka -1)




Kepada Muhammad Raihan Azka, anakku
.
Hari ini aku menulis surat padamu. Teknologi internet akan menyimpan surat ini hingga suatu saat kau bisa membacanya, dan tahu betapa ibu dan bapakmu sangat mencintaimu. Ini adalah surat pertama untukmu. Semoga Allah memanjangkan umurku agar bisa membuat banyak tulisan, sebagai warisan.

Hal pertama yang ingin kusampaikan padamu, aku ingin kau sedini mungkin belajar mengenai salah satu hal terpenting dalam hidupmu: Mengenal identitas dan jatidirimu. Mengapa penting? Karena semua hal buruk yang dilakukan manusia adalah karena ia tak mengenal jatidirinya. Kelak kau bisa cari tahu apa maksudku.

Awal yang paling mudah untuk mengenali jatidirimu adalah dengan mengenal aku dan ibumu, orang tuamu. Bagaimana kami bertemu? Suatu saat jika umur kami panjang, akan kupertemukan kau dengan seseorang bernama Sony Yulianto, sahabatku. Ia tahu banyak tentang aku dan ibumu. Atau kau bisa langsung bertanya pada ibumu, hanya saja jangan benar-benar percaya padanya, karena ia cenderung memutarbalikkan fakta mengenai awal hubungan kami berdua: Siapa yang mengejar dan siapa yang dikejar. Hehe, aku bercanda. Aku dan ibumu sering sekali bercanda (dan bertengkar) seperti seorang sahabat.

Aku dan ibumu adalah pasangan yang saling melengkapi. Aku penuh pertimbangan, ibumu cenderung spontan. Ibumu pintar teori-teori agama, aku lebih sering berpikir dan mencari makna. Hobiku baca, ibumu suka menjelajah gunung dan rimba. Aku cenderung diam, ibumu suka sekali bercerita. Aku juara puisi, ibumu juara lomba lari. Makanku lama, ibumu selalu tampak berselera apapun menunya. Dalam hidup kami, Ibumu menarikku ketika aku terlalu lambat. Aku menghentikannya ketika ia mulai terlalu cepat.

Aku kurus, cenderung tinggi. Tulangku cenderung kecil. Gigiku tak rapi, gigi kelinci. Kulitku sawo matang, hidungku panjang. Sementara ibumu tak tinggi, tapi tulang-tulangnya cenderung kokoh. Kulitnya putih bersih, giginya rapi. Aku merasa makin hari ia makin cantik, terutama jika kerudung panjang menutupi tubuhnya. Satu-satunya yang sama dari aku dan ibumu adalah rambut kami yang ikal, tapi aku lebih dominan. Aku tak tahu kau lebih mirip siapa, tapi agaknya tulang-tulangmu kokoh, gen dari ibumu. Darahmu Jawa-Madura, karena bapakku Jawa, ibuku asli Madura. Orang tua ibumu dua-duanya Jawa.

Ibumu. Kau pasti sepakat bahwa ia cantik.



Hidupku lebih keras dari ibumu. Mbahmu, orang tuaku, berpisah saat aku berumur sekitar 12 tahun. Cukup itu saja yang perlu kau tahu. Sejujurnya aku lebih lega melihat mereka berpisah setelah apa yang kami lalui selama bertahun-tahun. Tak perlu kau tanya mengapa dan siapa yang salah. Semua sudah kukubur tanpa pusara. Aku tetap mencintai mereka berdua, seperti aku mencintai kau dan ibumu. Hanya saja, aku memang lebih menjaga perasaan Mbah bhinek-mu (Bhinek adalah bahasa Madura, artinya wanita). Kelak, kau juga harus begitu memperlakukan ibumu.

Perpisahan itu mengajariku tentang hidup, tentang perjuangan, tentang cinta. Aku, Budhemu Ida, dan Mbah Bhinek-mu sempat berpindah-pindah rumah, termasuk rumah kontrakkan di sebuah gang sempit dengan ukuran sekitar 5 X 8 meteran dimana cuma ada satu TV cicilan 14 inchi dan dua kasur saat kami pertama menempatinya. Keadaan yang cukup berbeda setelah apa yang selama ini kami punya.

Aku tak menyalahkan keadaan, apalagi menjadi pengecut dengan lari ke hal-hal bodoh seperti narkoba, alkohol, dll kemudian bersembunyi pada dalih keluarga broken home. Aku kuat, tak tahu kenapa, padahal cobaan kami, khususnya mbah Bhinek-mu sangat berat. Itu salah satu sebabnya mengapa aku benci sekali anak-anak muda bermental lemah. Menyalah-nyalahkan dan memaksakan keadaan orang tua serta merengek-rengek minta dibelikan sepatu bermerek, laptop, handphone, komputer tablet terbaru, sepeda motor, mobil, atau memakai narkoba, mabuk, dll hanya agar terlihat keren dan diterima di lingkungan pergaulannya.

Singkat cerita, aku menikahi ibumu ketika aku berumur 30 tahun. Ibumu delapan tahun lebih muda dariku. Ibumu pekerja kantoran, aku mantan wartawan yang dengan dukungan ibumu, memutuskan membuat sebuah perusahaan kecil, masih berhubungan dengan bidang media. Aku masih ingat betul kami menghitung budgeting sangat sederhana dan tradisional untuk memulai usaha itu di trotoar depan kantor ibumu, di bawah temaram sinar kuning keemasan lampu jalanan plus background musik yang berasal dari deru mesin kendaraan. Itu sejarah. Semoga saat kau membaca ini, usaha ini sudah menjadi lebih besar, menempati tempat usaha yang jauh lebih layak dan membawa manfaat bagi lebih banyak orang.

Lewat pekerjaanku inilah aku bisa memberi nafkah untuk kau dan ibumu. Sedikit-sedikit berusaha menyenangkan mbah-mbahmu, atau paling tidak, tidak membuat mereka mengkhawatirkan keluarga kecil kita. Biaya kelahiranmu juga dari pekerjaan ini. Aku bersyukur bisa memberi yang layak -meski mungkin bukan yang terbaik- bagi kalian berdua. Salah satu kebanggaan terbesarku sebagai bapak dan suami adalah ketika aku bisa memberikan perawatan yang layak -meski bukan yang terbaik- untuk ibumu ketika mengandung dan melahirkanmu.

Aku bekerja bersama beberapa anak-anak muda, rata-rata seumuran ibumu. Mereka anak-anak muda yang hebat. Selain kau, ibumu, dan keluarga besar kita, aku berjanji untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Aku berhutang banyak pada mereka, meski mereka mungkin tak merasa begitu. Ada banyak cetakan hasil pekerjaan kami yang bisa kau cari di rumah, sekadar agar kau bisa membayangkan apa yang telah kami kerjakan.


Aku dan anak-anak muda hebat di kantor mungil kami
Ibumu juga wanita yang hebat. Ia bekerja, membantuku. Karena itu ia harus memerah susu untukmu setiap saat, setiap sempat, meski kadang dalam keadaan setengah terpejam dan terjaga karena lelah. Itu sebabnya sampai saat ini aku tak perlu membeli susu formula untukmu. Kau mendapat yang terbaik dari ibumu. Berterima kasihlah padanya. Temukan sebanyak-banyaknya cara untuk itu, karena kau tak akan pernah bisa membalasnya. Tidak juga aku.

Bicara soal ibumu, aku ingin sedikit cerita tentang mbahmu, orang tua ibumu. Mereka yang menjaga dan merawatmu sedari lahir. Dari rumah sakit, kau pulang ke rumah mereka, rumah sederhana yang orang-orang di dalamnya hidup bahagia. Aku belajar tentang bahagia dari mereka. Mereka berkumpul hampir setiap malam di ruang tamu, tertawa bersama, dan bercerita mengenai banyak hal. Ibumu seringkali mendominasi sesi itu. Ia selalu punya banyak cerita.

Kadang kami ngobrol di teras rumah atau di akses antara ruang tamu dan bagian dalam rumah. Akses itu jalan selebar kira-kira setengah meter, agak susah jika ada dua orang lewat berbarengan di jalan itu, karena ada beberapa lemari juga berjejer di sana. Kami sering “ngerunthel” disana. Ada adik ibumu Lia, sepupu ibumu yang tinggal di rumah itu, Bayu. Ada juga beberapa saudara yang rumahnya berdekatan dengan rumah mbahmu. Mereka hampir setiap malam berkumpul. Orang-orang di rumah ini suka sekali bercerita.

Mbah Kakungmu bekerja di rumah. Di teras rumah yang ukurannya hanya sekitar 2 x 5 meteran, ada satu mesin jahit di sana. Ia punya usaha reparasi tas. Aku pernah sedikit berwacana agar ia mau membesarkan usahanya. Aku merasa ada peluang bisnis yang belum tergarap maksimal. Menurutku ia bisa mengambil beberapa pegawai agar kapasitas produksinya bisa makin besar, sehingga omzet dan keuntungannya juga jauh meningkat.

Tapi otak bisnisku yang “kedunyan” ini agaknya tak “gathuk” dengan jiwa “nriman” dan konsep tawakkal mbah kakungmu itu. Ia lebih memilih bekerja “seadanya”, salah satunya agar setiap waktu sholat tiba, ia bisa bergegas ke mushola, tidak disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Ia biasa jadi imam sholat di sana. Aku belajar bab baru di rumah ini: Barokah.

Jangan salah dengan kalimatku “bekerja seadanya”. Mbah kakungmu itu mampu menyekolahkan ibu dan tantemu Lia sampai sarjana. Tantemu Lia juga mendapat fasilitas yang tak kalah dari anak-anak orang kaya, meski terkadang aku merasa fasilitas-fasilitas dan kemudahan mbahmu mengabulkan permintaannya membuat tantemu itu kurang “tangguh”.

Sama seperti mbah bhinek-mu, mbah kakungmu adalah semacam “tokoh kampung” yang sering diminta untuk memimpin pengajian di kampung mereka. Seperti pembacaan yasin tahlil, tasyakuran, dll. Mbah kakungmu juga mengajar anak-anak kecil mengaji seusai maghrib di mushola dekat rumah. Sementara mbah bhinekmu mengajar ibu-ibu di rumah . Sebelum menikah dan bekerja, ibumu juga membantu mbah kakungmu, mengajar anak-anak kampung memahami huruf hija’iyah.

Selain aku dan ibumu serta mbah bhinekmu, Mbah kakung dan mbah puterimu lah orang yang paling berjasa dalam hidupmu. Mereka lebih sering menyeka dan membersihkan pipis dan e’ek-mu dibanding aku dan ibumu. Mereka menjagamu setiap hari karena aku dan ibumu harus bekerja. Kau tinggal di rumah mereka karena mbah bhinekmu sudah cukup sepuh. Sementara kami, orang tuamu, tak cukup becus mengurus segala keperluanmu.  


Kau, Mbah Kakung dan Mbah Puterimu. 

Sampai tulisan ini aku buat, kau masih tinggal disana. Aku dan ibumu masih berusaha keras menabung mengumpulkan uang muka untuk membeli sebuah rumah. Tak perlu besar, mungil saja, asal penuh cinta. Kami ingin rumah itu nanti ada di dekat rumah bhinekmu. Ia sudah cukup sepuh, kami ingin dekat dan bisa selalu menjaganya. Sementara mbah kakungmu dan mbah puterimu masih relatif muda. Umur mbah puterimu masih sekitar 45 tahun-an. Dari segi umur, masih termasuk kategori anak mbah bhinekmu. Sebagai bayanganmu, saat kutulis surat ini, umurku 32 tahun. Hanya selisih 13 tahun dari mbah puterimu, mertuaku.

Berbeda dengan suasana rumah mbah kakung dan mbah puteri dimana kau dirawat saat ini, rumahku cenderung lebih “serius”. Mbah bhinekmu, aku, dan budhemu Ida termasuk orang-orang pendiam. Kami tak banyak ngobrol. Ngobrol, tapi tak banyak. Aku lebih sering membaca dan menonton TV, budhemu Ida rajin menulis diary saat remaja, sementara mbah bhinekmu lebih sering sibuk di meja kecilnya. “Nulis-nulis”, begitu istilah yang sering dipakainya.

Selain memasak, Mbah bhinekmu memang hobi sekali menulis. Apapun ditulisnya, termasuk apa-apa saja yang akan dan telah dilakukannya. Aku juga sering sekali mendapat surat-surat kecil di meja makan, sekadar memberitahu bahwa ia pergi ke gang sebelah untuk membeli sesuatu. “Ini ada soto, makan ya, enak. Ibu ke Bu Parwo sebentar,” begitu kira-kira salah satu surat di kertas kecil yang kuingat. Rasanya aku mewarisi bakat menulis darinya. Oh ya, ia juga menulis surat untukmu. Surat pertamamu darinya adalah ketika kau belum berumur satu tahun. Hebat, bukan? Begitu sayang dan bangganya ia padamu, ia yakin kau anak yang supercerdas dan mampu membaca suratnya ketika gigimu baru berjumlah enam buah. Bukankah sekarang aku juga melakukannya? Beda, aku menulis surat ini untuk kau baca setelah kau benar-benar bisa membaca dalam arti sebenarnya dan memahami dengan baik.

Surat dari Mbah Bhinekmu untukmu, saat kau masih berumur 10 bulan.


Kau dan wanita-wanita dalam hidupku, selain ibumu. Mbah bhinek dan Budhemu
Aku dan mbah bhinekmu punya selera yang sama. Lidah kami sama-sama penyuka citarasa gurih, seperti umumnya orang-orang Madura. Kami sama-sama mudah tersinggung, juga khas orang Madura. Kami sama-sama suka membaca koran dan menonton acara-acara berita. Mbah bhinekmu sampai sekarang masih sering bertanya padaku, “Yo opo pendapatmu, le?”. Kami sering berdiskusi, tapi sekarang ia lebih sering hanya meminta pendapatku tanpa banyak “melawan”. Ia sudah cukup sepuh, analisanya sudah tak tajam.

Mbah Bhinekmu orang hebat. Ia pensiunan pegawai negeri. Ia pintar, sarjana. Menjadi sarjana di awal tahun 1970-an sama sekali bukan hal mudah dan tak semua orang bisa mendapatkannya. Beda dengan masaku, jadi sarjana sudah sangat biasa. Mudah, asal punya uang, tak perlu pintar. Buktinya aku. Aku tak pintar, tapi sarjana.

Mbah Bhinekmu juga sangat mandiri, karakternya keras tapi hatinya lembut, khas orang Madura. Aku menghormatinya. Salah satu buktinya bisa kau lihat dari caramu memanggilku dan ibumu: Abi dan Ummi. Mbah bhinekmu yang menyuruh begitu. Katanya agar suatu saat aku dan ibumu kami bisa naik haji. Agak tidak jelas relevansinya, katanya panggilan adalah doa. Tapi biarlah, asal ia bahagia, walau sejujurnya aku lebih senang kau memanggil kami bapak dan ibu. Lebih membumi rasanya.

Kau juga pasti ingin tahu tentang bapakku, yang juga mbah kakungmu. Sudah banyak orang bilang kau mirip dengan mbah kakungmu itu. Terkadang aku juga merasa begitu, terutama bentuk kepalamu dan rambutmu yang jarang di bagian belakang.

Mbah kakungmu juga pensiunan pegawai negeri. Agaknya karirnya cukup sukses. Beberapa orang bercerita, Ketika aku seumuranmu, sekitar awal tahun 1980-an, rumah kami sering didatangi tetangga yang ingin nonton televisi berwarna. Di kampung kami, hanya mbah kakungmu yang punya. Aku juga pernah melihat foto mobil terparkir di depan rumah kami. Kalau tak salah, Mitsubhisi Colt L-300. Cobalah googling jika kau ingin tahu bentuknya, karena sepertinya mobil itu mungkin sudah tidak ada di saat kau membaca surat ini.

Ia punya banyak kekurangan, tapi juga punya banyak kelebihan, sama seperti aku, ibumu, dan mbah-mbahmu lainnya. Tapi yang pasti, ia selalu berusaha memberikan terbaik bagi aku dan budhemu. Ia menjemputku dan budhemu setiap kami pulang sekolah. Ia bahkan memaksa mengantarku ke luar kota ketika aku melamar kerja, saat aku sudah dewasa. Sampai sekarang ia masih sering menanyakan kabarku, kau, dan ibumu. Juga masih sering sekali menelpon hanya sekadar menanyakan pekerjaanku, memastikan semua baik-baik saja. Minggu lalu ia masih mengantar budhemu ke dokter, dll. Perhatiannya luar biasa bahkan sampai usianya senja. Aku mencintainya, sama seperti aku mencintai kau, ibumu, mbah bhinekmu, dan mbah kakung serta mbah puteri dari ibumu.

Ia sosok yang tangguh. Badannya relatif besar, agak temperamental. Tapi seumur hidupku, ia tak pernah sekalipun memukulku. Sampai sekarang, di saat umurnya hampir 70, ia masih terlihat keren dan gagah, meski kulit yang mengeriput termakan usia memang tak bisa diedit di photoshop atau teknologi lainnya. Baju-bajunya lebih bagus dari bajuku. Jam tangannya bermerek, sepatunya bagus, jaketnya kulit, rambutnya klimis. Sampai sekarang, beberapa barangnya seperti baju, jaket, dan sandal masih suka aku “curi” darinya. Aku pinjam, tapi tak pernah kukembalikan.

Barang-barangnya adalah barang-barang terbaik di kelasnya. Ia menginap di hotel berbintang, makan di restoran mahal, pelesir di tempat-tempat bagus. Sebenarnya menurutku ia tak kaya, biasa saja. Hanya saja “tongkrongannya” memang istimewa. Ia royal, murah hati, dan ringan tangan.

Sahabat-sahabatku banyak yang “berteman” dengannya. Mereka menganggapnya bapak gaul. Di mata tetangga, mbah kakungmu adalah sosok yang disuka. Ia “kepala suku” yang menggagas acara sahur bersama di kampung. Bukan buka bersama, tapi sahur bersama. Satu kampung keluar jam 3 pagi buta untuk makan bersama, atas inisiatifnya. Anehnya semua menurut padanya, bukan karena terpaksa. Ia dihormati sekaligus disukai.

Tapi mbah kakungmu bukan sosok materialistis, ia tetap bersahaja. Ia tak canggung naik motor Star 86 miliknya, tapi juga terlihat sangat pantas di belakang kemudi mobilnya. Salah satu hal terbaik yang aku belajar darinya adalah “menjaga keseimbangan”. Kini, saat “masa-masa jayanya” telah lewat, ia tetap biasa saja. Tidak “post power syndrome”. Sekarang ia juga sudah mulai mau “kutraktir”. Beberapa tahun lalu, sangat sulit mewujudkan keinginanku untuk sedikit menunjukkan baktiku padanya. Ia sama sekali tak mau merepotkanku, sama seperti orang tua pada umumnya.

Mbah kakungmu menikah lagi. Kau punya beberapa om dan tante lainnya. Kami sering bertemu, selayaknya saudara. Sekarang, mbah kakungmu hidup bersama seorang wanita yang kami panggil Mami. Mami tak menggantikan siapa-siapa dan mendapat bagiannya sendiri di hatiku dan budhemu. Jangan tanya porsinya. Sama seperti ketika ibumu hadir dalam hidupku, ibumu tak menggantikan mbah bhinekmu. Aku tak bisa menjawab berapa prosentase cintaku pada ibumu dan berapa persen yang “tersisa” untuk mbah mbinekmu setelah dibagi dengan ibumu. Itu pertanyaan bodoh. 

Mbah kakungmu dan Masmu Izan, anak Budhemu

Kau dan Mbah Kakungmu. Rasanya memang mirip.
Azka...., apa yang kupaparkan di atas adalah identitas yang tak dapat kau ubah. Given! Kau lahir dari rahim ibumu, aku bapakmu, mereka mbah-mbahmu, ciri-ciri tubuhmu, semua adalah identitas yang melekat secara otomatis pada dirimu. Given. Tak bisa kau tolak, tak bisa kau ubah.

Setelah identitas pemberian Allah itu, ada identitas buatanku dan ibumu. Kami jadikan kau Islam. Aku adzan di telinga kananmu, iqomat di kuping kirimu. Kami beri kau nama Muhammad Raihan Azka. Raihan artinya wewangian surgawi, Azka berarti bersih atau suci. Muhammad? Aku yakin kau telah mengenal “Sang Cahaya” itu saat membaca surat ini. Kau kemudian pulang ke sebuah alamat yang juga jadi identitasmu. Kau jadi penduduk dari suatu wilayah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Identitas yang aku dan ibumu berikan itu sifatnya sementara, temporary, dan dapat kau ubah kelak ketika kau telah mempunyai pemahaman dan kemampuan berpikir yang baik. Kelak kau bisa memilih jadi warna negara bagian bumi manapun yang kau mau. Kau bisa mengubah namamu menjadi Richardo Lewis, Dewa Biru Laut Semesta, atau apapun yang kau mau. Bahkan kau pun mungkin memilih keyakinan yang kau anggap paling benar (Semoga Allah menetapkan Iman dan Islam-mu sampai akhir hayat lewat ikhtiarku dan ibumu). Apakah identitas yang kami diberikan harus kau ubah? Tidak juga. Kau tetap bisa mempertahankan identitas yang diberikan orang tuamu itu, jika kau mau.

Penentuan identitasmu itu akan berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama. Bahkan sampai akhir hayatmu kelak. Kau akan menentukan ungiven identity-mu sendiri. Kau akan membangun idealisme-idealismemu sendiri. Kau akan menentukan benar dan salah menurut pemahaman yang kau yakini. Tugasku dan ibumu adalah mendorong agar kau jadi sosok IDEALIS, BERANI MEMILIH dan mempunyai REASON atas identitas yang kau pilih. Kau harus idealis. Orang-orang yang tak idealis adalah orang-orang pengecut yang pilih aman, atau memang tak terlalu pintar karena tak mau belajar. Kau harus jadi anak pintar.

Kau tak boleh jadi anak alay yang tak punya idealisme dan tak paham identitasmu sendiri. Yang memotong rambutmu model spikey, penuh tato dan atribut-atribut punk agar terlihat keren tapi sama sekali tak punya pemahaman tentang kapitalisme yang menginjak kaum marjinal. Kau boleh memanjangkan jenggotmu, berjubah, dan melinting celanamu semata kaki, sepanjang dapat memberikan REASON mengapa kau melakukannya. Kau harus tahu siapa dirimu. Kau harus tahu kapan hanyut dan kapan melawan arus.

Untuk memiliki reason atas sebuah identitas atau idealisme, kau harus belajar. “Bacalah”, berpikirlah... Proses belajar itu lah yang kemudian membuatmu jadi dewasa, mengerti dan bertanggung jawab atas pilihanmu. Proses belajar juga akan membuatmu menghargai pilihan dan identitas orang lain. Kau akan paham bahwa pilihan idealisme seseorang juga memerlukan proses pemikiran dan memiliki reason (kecuali mereka yang tidak melakukannya). Kau juga akan mengerti bahwa orang-orang yang tidak dapat menghargai idealisme dan identitas orang lain adalah orang-orang alay yang tak pernah belajar identitasnya sendiri.

Azka, surat ini adalah salah satu ikhtiarku untuk mendidikmu. Membuatmu menjadi sosok tangguh. Mendidikmu adalah kewajibanku. Aku tak akan bosan-bosan membuat tulisan-tulisan untukmu, kau jangan bosan-bosan membaca tulisan-tulisanku. Aku masih punya banyak cerita untukmu.

Cukuplah surat pertama ini, semoga kau menikmati “metode pembelajaran” yang kupilih. Selamat ulang tahun, anakku. Aku tak punya kado apa-apa untukmu, hanya tulisan dan video pendek sebagai kenang-kenangan. Pesanku, yang akan aku ulang setiap kali aku menulis surat untukmu: Kelak jika aku dan ibumu telah meninggalkanmu, aku minta kau melakukan tiga hal: Doakan kami di setiap sholatmu, doakan kami di setiap sholatmu, dan doakan kami di setiap sholatmu. Kami akan teramat sangat butuh itu. Itu wasiatku.




Surabaya, 8 Maret 2014
(Dua hari sebelum ulang tahun pertamamu)
Aku yang menyayangimu,
Bapak alias Abi.





    

    

Saturday, July 02, 2011

Tentang (Blog) Saya


Selamat berjumpa kembali. Setelah tidak menulis untuk blog ini selama berbulan-bulan lamanya, agaknya saya harus sadar diri bahwa saya bukan penulis yang baik. Seorang penulis yang baik akan menulis seperti ia menghirup udara. Ia butuh menulis, kapan pun, dimana pun.

Saya tidak seperti itu. Saya membutuhkan cukup rangsangan untuk akhirnya memutuskan menulis. Kadang terangsang, tapi tetap juga tidak menulis.

Kenapa begitu? Karena saya menulis di blog ini bukan untuk orang lain, tapi untuk diri saya sendiri. Jadi kalau tidak ada yang membaca tulisan ini, ya tidak apa-apa, karena sebenarnya saya memang sedang berbicara dengan diri saya sendiri. Tapi bulshit lah kalau saya tidak senang jika banyak yang membaca tulisan saya, karena kalau ada orang lain yang menikmati pembicaraan saya dengan diri saya sendiri, ya itu kesenangan dan kebanggaan tersendiri.

Lalu apa perlunya bicara pada diri sendiri? Jawabnya adalah untuk menertawakan diri sendiri. Banyak sekali tulisan saya yang sebenarnya merefleksikan kebodohan dan ketidaktahuan saya akan banyak hal. Tentang Tuhan, tentang hidup, tentang cinta, tentang apa saja. Setelah menulis, saya sering kali baru sadar bahwa yang saya olok-olok dalam tulisan saya itu adalah saya sendiri. Lalu tertawalah saya pada diri sendiri.

Dengan menulis, saya belajar bahwa ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan. Ada banyak hal yang harus saya pikirkan dan segera harus dimengerti. Saya jadi menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, saya tidak tahu apa-apa tentang hidup, saya tidak tahu apa-apa tentang cinta, dan bahkan saya tidak tahu apa-apa tentang diri saya sendiri. Karena sering kali saya baru menyadari kekurangan diri sendiri setelah selesai menulis!

Coba lihat tulisan berjudul “Transportasi dan Transformasi Budaya”, “Realita Cinta, (Pipis) dan Rock & Roll”, “Rindu, Keju, dan Bokong”, “Tebak Nama”, “Big Match: Setan vs Malaikat Kebaikan”, “Bawakan Aku Surat Cinta”, “Cerita Berambut”, dll. Itu semua adalah cara saya menertawakan diri saya sendiri.

Yang saya olok-olok sebagai orang yang tak pernah sholat jamaah Shubuh di majid dekat rumah dalam “Transportasi dan Transformasi Budaya” itu ya saya. Yang tidak dapat menggunakan logika dan mengedepankan nafsu dalam “Realita Cinta, (Pipis) dan Rock n’ Roll”, ya saya ini. Yang tidak menyadari bahwa umur itu begitu cepat berjalan dan tidak menyadari bahwa kematian semakin dekat setiap detiknya dalam “Bawakan Aku Surat Cinta”, ya saya… iya, saya…, kamuu!! Ya kamuu, Diazzz!!!!!!

Hhh… baiklah. Cukup sudah obrolan dengan saya. Sebenarnya saya ingin berbicara lebih banyak dengan diri saya sendiri tentang sebuah hal. Tapi, saya harus berkompromi dengan diri sendiri juga. Makan, lalu istirahat. Selamat malam untuk diri saya sendiri, dan mungkin beberapa teman dan kerabat yang mampir ke blog ini.

Sunday, September 19, 2010

Transportasi dan Transformasi Budaya



Kiranya, masih jelas terekam di memori kita betapa alat komunikasi tercanggih di sekitar tahun 80’an adalah jaringan telepon fix cable, itu pun tak semua orang punya. Bagi sebagian kaum muda, “telepon rumah” tak mampu mengakomodir kebutuhan private convertation mereka. Solusinya: mengumpulkan banyak uang receh, dan pergi ke telepon umum. Risikonya: Dimarahi orang yang antri karena telepon terlalu lama.

Mau instant message? Pakai pager! Belum sempat booming, teknologi telepon nirkabel melenyapkan pager seperti tak pernah ada. Belum sempat bengkak jari ber SMS-an, semua harus cepat-cepat bergaul dengan internet yang membuat dunia seperti ada di genggaman. Semua bisa. Mulai dari sekadar mengirim dokumen, sampai urusan tetek bengek seperti cari jodoh.

Tak cukup nyaman hanya bisa diakses lewat personal computer (PC) atau notebook, internet hadir melalui telepon selular. Kini, semua bisa berselancar di dunia maya sambil meeting, sambil makan,atau sambil –maaf- buang air besar.

Tak perlu lagi langganan koran, baca saja versi online nya. Paperless dan ikut melestarikan hutan karena jumlah pohon yang dipotong dan dijadikan kertas jadi menurun. Tak perlu pasang iklan mahal, karena puluhan situs menyiapkan tempat iklan gratis dengan efektifitas yang bahkan mengalahkan iklan di media konvensional. Tak perlu kirim berkas, email saja. Tak perlu SMS, YM-an saja. Tak perlu telepon, Skype saja.

Suka tak suka, mau tak mau, perkembangan teknologi memang berpengaruh pada kehidupan kita. Yang tak punya mentalitas cair –seperti yang ditulis Presdir Globalteleshop, Bapak Djamiko Wadoyo di Kontan Weekend- pun kadang-kadang juga dipaksa cair. Kalau perlu dipanaskan, biar cair. Bagaimana tidak? Kelulusan atau pendaftaran sekolah saja sekarang diumumkan lewat website sekolah. Jadi meski tak bermental cair, orang tua sedikit banyak harus tahu internet, kecuali mau anaknya tak sekolah.

Perlahan tapi pasti, percepatan teknologi ini menggiring kita pada budaya serba instan, cepat, dan tak merepotkan. Sedikit demi sedikit, kebutuhan akan barang berteknologi tinggi menggiring mindset kita untuk hanya menggunakan parameter material guna menilai banyak hal. Yang baik adalah yang mahal. Yang bagus adalah yang berteknologi tinggi. Yang enak adalah yang cepat dan tak merepotkan. Dan itu masuk ke semua sendi kehidupan. Telekomunikasi, pendidikan, transportasi, hiburan, makanan, semua… semua.

Coba, apa hal yang langsung terlintas di pikiran kita jika harus mendefinisikan kemakmuran? BlackBerry Onyx? Mercy S Class? Apartemen? Liburan keliling dunia? Nasabah prioritas bank terkemuka? Atau minum kopi di Starbucks? Tak apa kalau itu memang yang terlintas di benak kita, karena memang itu yang menjejali pikiran kita setiap hari.

Lalu, coba lagi, image apa yang terlintas ketika kita harus menyebutkan parameter kemiskinan atau kekurangan? Makan seadanya? Rumah kontrakan? Jobless? Handphone jelek dan tak berwarna? Atau…, sepeda!

Kok sepeda? Ya, karena yang bersepeda adalah office boy, buruh pabrik, kuli, pedagang sayur, dan tenaga kasar lainnya. Pendapatan yang minim dan tak memungkinkan untuk membeli sepeda motor –apalagi mobil-, membuat saudara-saudara kita itu terpaksa naik sepeda ke tempat kerja.

CEO atau jajaran direksi naik sepeda ke kantor? Yang benar saja! Tak mungkin, unreasonable. Pernahkah kita melihat tempat parkir sepeda direktur? Tidak. Yang ada hanya aspal atau papan yang bertulis plat nomor mobil direktur.

Sebenarnya General Manager, Walikota, artis dan lainnya juga naik sepeda, tapi kalau ada perlunya. Memperingati hari tertentu, launching produk lalu mengadakan sepeda gembira, atau dalam rangka kampanye jelang Pemilukada.

Tidak bisa disalahkan juga. Ini masalah budaya. Budaya kita adalah budaya kesetaraan, budaya kepantasan. Bangsawan pantasnya menikah dengan priyayi. Aneh, saru, dan tak setara rasanya jika bangsawan menikah dengan pembantu. Suatu saat sang pembantu naik derajat, ya mantan pembantu itu tak akan menikahi orang yang derajatnya lebih rendah darinya.

CEO, General manager, bupati, walikota, artis, manager, ya pantasnya naik mobil. Staf administrasi, pegawai biasa, pedagang kelas menengah ya cocoknya naik motor. Buruh pabrik, kuli, office boy, PRT, ya cukup naik sepeda atau bemo saja lah. Ya memang begitu pakem nya, itu budaya nya.

Seperti halnya barang-barang mewah lainnya, alat transportasi juga menjadi tolok ukur kemapanan dan parameter status sosial. Jadi kadang-kadang malah lucu kalau banyak orang teriak-teriak –apalagi yang kaya- meminta pemerintah daerah atau pemerintah kota untuk menyediakan fasilitas transportasi umum yang baik. Karena, hal itu jadi terdengar seperti ini: Alat transportasi harus dibuat sebagus mungkin, infrastuktrurnya harus sesempurna mungkin, supaya orang miskin bisa menggunakan alat transportasi umum dengan nyaman, dan mengurangi kemacetan. Supaya yang kaya tetap boleh melenggang dengan nyaman di dalam mobil-mobil pribadinya. Suatu saat yang kaya jatuh miskin dan si Miskin mendadak kaya…, ya gantian lah…! Karena yang kaya “tak boleh” naik angkutan umum, berdesakan dengan “orang umum”. Orang kaya pantasnya naik mobil. Ya memang begitu pakem nya, itu budaya nya.

Tak percaya? Mari kita ambil contoh Kereta Komuter Surabaya-Sidoarjo saja sebagai sebuah contoh kecilnya. Pertama kali diluncurkan, kereta ini diharapkan akan berperan besar dalam mengurai kemacetan di banyak jalan protokol di Surabaya. Terutama Jalan A. Yani, salah satu nenek moyang jalan macet di Surabaya.

Dengan Kereta Komuter, orang Sidoarjo yang bekerja atau kuliah di Surabaya, harusnya bisa sampai di Surabaya dalam waktu sekitar 30 menit. Bandingkan dengan perjalanan dengan mobil atau sepeda motor pribadi yang mungkin akan memakan waktu dua atau tiga kali lipatnya pada jam-jam macet, saat banyak orang berangkat dan pulang kerja. Tapi apakah kemudian banyak orang beralih menggunakan kereta Komuter untuk berangkat kerja? Tak perlu dijawab dulu.

Mari lebih spesifik. Mungkin, ada puluhan, atau bahkan ratusan warga Sidoarjo yang kuliah dan atau berprofesi sebagai dosen di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Unair, bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Stasiun Gubeng Surabaya. Kurang lebih 10 menit ke Kampus A (Fakultas Kedokteran), atau sekitar 15 menit ke Kampus B.

Jalan pedestrian dari Stasiun Gubeng ke Unair, telah dibangun dengan apik. Pejalan kaki bisa berjalan dengan nyaman di trotoar dengan banyak pohon rindang. Tanahnya telah dipaving. Luasnya cukup untuk empat orang yang jalan berjejer. PKL nya sudah digusur semua, dipindahkan dan diberi tempat khusus di antara dua lapangan di Jalan Dharmawangsa. Beres sudah tugas Pemkot Surabaya. Tak mau berjalan di bawah matahari sedang bersinar terik? Setidaknya ada tiga bemo yang siap mengantar. Cuma butuh 30 detik untuk sampai ke Kampus A. 1,5 menit kalau terhadang lampu merah.

Ditilik dari kasus ini, tak ada yang salah dari infrastruktur yang disiapkan pemerintah kota. Semua tersedia. Bahkan bukan cuma tersedia, bagus pula. Tapi kenapa mahasiswa atau dosen Unair yang tinggal di Sidoarjo tak mau menggunakan Kereta Komuter untuk datang ke kampus? Boleh jadi masalah budaya itu lah jawabnya. Dan percayalah, ada mahasiswa-mahasiswa atau dosen kaya dari Sidoarjo yang lebih suka menggunakan mobil mereka daripada naik Kereta Komuter.

Alih-alih banyak yang beralih naik Kereta Komuter, Unair malah menjadi “sasaran empuk” Secure Parking, perusahaan outsourcing di bidang perparkiran. Tentu karena banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Coba kalau lebih banyak yang naik sepeda, kereta, atau angkutan umum lainnya, tentu Secure Parking tak membidik Unair sebagai target pemasarannya.

Yang jadi masalah lagi, dalam perjalanannya, karena tak banyak “orang kaya” Sidoarjo yang menggunakan Kereta komuter, kesannya kereta ini seperti diperuntukkan untuk kalangan bawah. Dan akhirnya, perawatan infrastrukturnya pun jadi sedikit tak terjaga. Kalau yang naik rakyat biasa, perawatannya ya biasa saja lah. Ya memang begitu pakem nya. Begitu budaya nya.

Selain Kereta Komuter, Surabaya beberapa waktu lalu marak dengan wacana pembangunan jalur khusus sepeda. Setidaknya ada dua calon walikota yang “tiba-tiba” berjanji membangun “jalur sehat itu”. Hal itu dicetuskan dalam acara sepeda gembira, yang tentu saja saat itu banyak orang bersepeda.

Ini adalah hal yang bagus. Tak ada yang menilainya buruk. Tapi pertanyaannya, jika jalur khusus sepeda itu sudah terealisasi, maukah kita memarkir sepeda motor atau mobil kita di rumah, dan kemudian mengemudikan sepeda untuk pergi ke kantor kita atau cari restoran saat akan lunch? Jangan-jangan malah dimanfaatkan oleh PKL untuk membuka lapaknya, atau jadi parkir liar karena sepeda yang lewat ya tetap milik buruh pabrik, kuli, atau pedagang sayur yang berangkat kerja. Lebih celaka lagi kalau pembangunan jalur khusus sepeda itu memakan sebagian jalan umum. Bukan mengatasi kemacetan, malah berpotensi memperparah.

Sepanjang dan semulus apapun jalan khusus sepeda yang dibangun pemerintah kota, tak akan berarti apa-apa jika kita tak merubah mindset kita, karena semua orang tetap akan memilih menggunakan mobil pribadinya, dengan segala fasilitasnya: Dingin, nyaman, bisa ber-BBM an pula. Dan yang paling penting, budaya kepantasan tetap terjaga.

Masalah transportasi bukan semata-mata masalah infrastruktur. Tapi juga masalah budaya. Dan berbicara tentang budaya, tentu ini tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Tapi juga masyarakat…, kita!

Mengatasinya masalah transportasi tidak cukup hanya dengan pembangunan jalur khusus sepeda atau penambahan jumlah angkutan umum. Jauh lebih besar dari itu, kita membutuhkan reformasi budaya dan mengembalikan alat transportasi pada esensi sejatinya. Bukan hanya sekadar menghantarkan kita ke tempat tujuan, tapi juga mempunyai fungsi sosial yang memanusiakan penggunanya.

Kalau sudah begini, yang dulu-dulu, yang tak berteknologi, yang murah jadi terdengar indahnya. Karena kalau misal nanti naik sepeda telah membudaya, akan membudaya pula sholat shubuh berjamaah dan bangun pagi –karena harus berangkat lebih pagi dibanding ketika naik mobil atau motor-, akan membudaya pula saling menyapa ketika bertemu tetangga atau kerabat saat bersepeda.

Kalau misal nanti naik angkutan umum sudah membudaya, akan tumbuh subur pula budaya-budaya positif lainnya, seperti budaya antri dan menjaga kebersihan fasilitas umum. Akan mengemuka kembali fitrah kita sebagai makhluk sosial karena kita akan banyak bertemu orang baru di angkutan umum. Akan bertambah pula rejeki kita karena kita semakin banyak link, setelah bertemu orang-orang dari banyak background usaha.

Memang ini tak mudah. Jauh dari kata gampang. Karena ini menyangkut merubah budaya. Tapi siapa bilang tak bisa? Hanya saja, setiap revolusi membutuhkan waktu yang tak sebentar, setiap reformasi selalu meminta sikap istiqomah atau konsistensi untuk mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan. Jadi seharusnya bisa kalau kita sepakat untuk memulainya.

Memulai apa? Mulai bangun pagi, mulai sholat shubuh jamaah di masjid dekat rumah, mulai jalan-jalan sore di komplek sekitar rumah, mulai membagi rejeki dengan abang tukang becak yang mangkal di depan kompleks, mulai memberi hari libur kepada pembantu rumah di hari minggu dan pergi sendiri ke pasar terdekat, mulai mengunjungi saudara-saudara dekat yang selama ini hanya bertemu saat lebaran, mulai apa saja lah…, memulai segala sesuatu yang bisa kembali melahirkan fitrah kita sebagai makhluk sosial. Karena boleh jadi, masalah kebangsaan kita –termasuk masalah transportasi- sebenarnya adalah masalah “human being”. Ego untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat “material” untuk diri kita sendiri.

Meminjam istilah A’A Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang. Menciptakan kata-kata saya sendiri, mulai dari berpikir, lalu menulis, dan kemudian melakukannya bersama-sama Anda. Karena saya tak mungkin bersepeda sendirian ke kantor, malu dan karena bersepeda belum membudaya di sekitar saya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites